Kirab Tumpeng dan Seni Budaya, Warga Awang-awang Berjalan Puluhan Kilometer

merti dusun awang-awang brenggong purworejo
KIRAB : Kepala Desa Brenggong Legiman menyapa masyarakat dari atas mobil dalam kirab tumpeng dan seni budaya yang diadakan di Dukuh Awang-awang, Sabtu (2/9/2023).

PURWOREJO-Ratusan warga Desa Brenggong, Kecamatan/kabupaten Purworejo mengikuti kirab tumpeng dan seni budaya yang diadakan Dukuh Awang-awang di desa setempat, Sabtu (2/9).

Acara ini rutin digelar setiap tahun pada bulan Sapar. Selain tumpeng, warga juga membawa hasil bumi berupa sayuran dan buah-buahan. Agenda tahunan ini merupakan wujud syukur dan selamatan padukuhan.

“Ini cara warga mengucapkan syukur pada Sang Pencipta, atas hasil bumi yang melimpah. Sekaligus syukuran atau merti desa padukuhan Awang-awang,” kata Kadus Awang-awang, Wisnu Cahyo Buwono.

Kirab diawali rombongan perangkat Desa Brenggong, dari kepala desa, perangkat desa dan anggota BPD. Lalu dibelakangnya tiga tumpeng ukuran besar dan gunungan sayuran dari warga Dukuh Awang-awang. Kemudian dibelakangnya disusul warga dari padukuhan lainnya seperti Dukuh Brenggong Lor, Brenggong kidul, Jambul, Sejati dan Dukuh Tegalsari.asing masing dengan penampilan yang nyentrik dan unik. Selain itu, juga ada kirab Senin budayanya. Seperti group dolalak Arum Sari, kuda kepang, dayakan, group rebana dan kesenian lainnya.

“Kirab ini biasanya hanya Dukuh Awang-awang saja. Namun dukuh lain menghendaki ikut kirab. Sekaligus untuk merayakan HUT Kemerdekaan RI ke-78,” kata Kades Brenggong, Legiman.

Legiman menjelaskan, kegiatan ini bisa menjadikan media untuk menyatukan warga. Sekaligus untuk nguri-nguri budaya kearifan lokal yang sarat pesan moral. Tentu disesuaikan dengan peradaban zaman sekarang. Agar tetap lestari sebagai pegangan menjaga jati diri.

“Tradisi ini harus kita uri uri karena sebagai sarana untuk mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta atas apa yang diberikan oleh-Nya,” jelasnya.

Acara kirab tumpeng dan seni budaya ini finish di pelataran petilasan Nyai Lantamsari, salah satu tokoh atau pepunden warga Dukuh Awang-awang. Tiga tumpeng besar itu kemudian diletakkan di pelataran untuk didoakan dan dimakan bersama. Sedangkan gunungan sayuran jadi rebutan warga untuk dibawa pulang supaya mendapat keberkahan.

Acara dipungkasi dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Dengan lakon Semar Mbangun Khayangan dengan dalang Ki Heru Purnomo dan malam hari Ki Danang Wahyu Nugroho dengan lakon Wahyu Purbo Sejati. (nif)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Test