Masjid Al Huda Kemanukan Miliki Grup Hadroh Anak

hadroh masjid al huda
TUMPENG : Ketua Hadroh Al Huda Desa Kemanukan Bagelen, Daryono menyerahkan potongan tumpeng kepada salah satu anggota saat digelar tasyakuran keberadaan hadroh tersebut di serambi masjid setempat, Sabtu (24/2/2024).

BAGELEN-Anak-anak yang biasa mengaji di Masjid Al Huda Desa Kemanukan Kecamatan Bagelen Purworejo memiliki wadah untuk menuangkan jiwa berkeseniannya. Terhitung sejak awal Oktober 2023, anak-anak diajak untuk mengenal sekaligus menguasai alat hadroh.

Awal keberadaannya, mereka memanfaatkan alat yang dimiliki Fatayat dan Musllimat yang selama ini tersimpan di majid tersebut. Namun seiring perkembangan waktu, pihak pengurus mengadakan peralatan sendiri untuk lebih memaksimalkan latihan anak-anak.

Menjadi masjid utama di desa tersebut, selama ini Masjid Al Huda memang belum memiliki grup hadroh sendiri. Atas dasar itulah, takmir masjid mencoba membuka ruang kreatif bagi anak-anak untuk lebih memanfaatkan masjid dan memperdalam ngaji serta memperdalam pengetahuan akan Islam.

Berbarengan dengan peringatan nifsu syaban, keberadaan grup hadroh yang didominasi anak-anak itu digelar tasyakuran, Sabtu (24/2/2024) malam. Tidak saja melibatkan anggota grup, namun juga menghadirkan orang tua serta jamaah yang biasa menjalankan ibadah di masjid tersebut.

Seluruh jamaah mengikuti prosesi nifsu syaban yang dimulai dari Shalat Magrib, membaca surat Yasin 3x, shalat Isya dan shalat tasbih. Prosesi itu ditutup dengan tasyakuran dengan dilakukan pemotongan tumpeng yang dilakukan ketua grup, Daryono dan diserahkan kepada Imam Masjid Al Huda KH Abdul Wahib, Ketua Ranting NU Ngadino Sugeng Wibowo serta anggota termuda.

Baca Juga Tunjungan Expo Untuk Tingkatkan Ekonomi Warga

“Keberadaan grup hadroh ini tidak hanya sebatas yang tinggal di seputar masjid Al Huda. Namun bisa diikuti oleh anak-anak di Desa Kemanukan,” kata Daryono.

Ketua Ranting NU Kemanukan, Ngadino Sugeng Wibowo menyambut positif adanya grup tersebut. Karena selama ini masjid utama di Kemanukan itu memang belum memiliki grup hadroh sendiri.

“Berkecimpung dengan hadroh itu menunjukkan kebersamaan. Tidak ada yang boleh merasa pintar sendiri karena menguasai atau cakap memainkan alatnya. Sepintar apapun, tanpa dukungan teman-teman yang lain, tidak akan bisa memainkan atau mengeluarkan irama dan vokal yang menarik,” kata Ngadino.

Dirinya berharap, grup hadroh itu akan selalu ada dan tidak hanya tumbuh sesaat kemudian mati. Fokus menggarap anak-anak, menurutnya akan memberikan dampak estafet yang baik. Dimana akan selalu muncul anggota baru yang tertarik untuk bergabung.

Imam Masjid Al Huda KH Abdul Wahib menyampaikan di dalam hadroh banyak memberikan atau menyampaikan sholawat. Dia menyebut dari suka hadroh, anak-anak akan banyak menyuarakan dan akan mencintai sholawat.

“Ini menjadi pembiasaan baik. Anak-anak akan senang sholawat yang selanjutnya mereka akan lebih mencintai agamanya,” jelas Abdul Wahib. (nif)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Test