YOGYAKARTA – Penyelenggaraan Prambanan Jazz Festival di kawasan Candi Prambanan dinilai berhasil memadukan unsur budaya lokal dan global. Namun, hasil penelitian mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya menunjukkan bahwa dominasi logika industri hiburan global masih lebih kuat dibandingkan penguatan budaya lokal.
Penelitian berjudul “Lokalitas dan Globalitas Budaya dalam Penyelenggaraan Prambanan Jazz: Studi terhadap Peran PT Taman Wisata Candi sebagai Pengelola Kawasan Warisan Budaya” mengkaji bagaimana PT Taman Wisata Candi (TWC) mengelola festival musik internasional yang berlangsung di kawasan situs warisan dunia UNESCO tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara dengan mantan Sekretaris Perusahaan PT TWC, Emilia Eny Utari, ditemukan bahwa unsur lokalitas budaya hadir melalui berbagai aspek, seperti penggunaan simbol dan motif wayang, penampilan unsur budaya Jawa dalam pertunjukan, serta penerapan aturan yang menjaga kesopanan dan kelestarian kawasan candi. Selain itu, sistem zonasi yang diterapkan membuat kegiatan festival hanya dapat berlangsung di area wisata (Zona 2), sementara kawasan inti candi tetap dilindungi.
Di sisi lain, unsur globalitas tampak dari penggunaan musik jazz sebagai genre utama, keterlibatan artis internasional, standar penyelenggaraan bertaraf global, serta orientasi pasar yang menyasar wisatawan mancanegara. Kehadiran wisatawan asing dinilai memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi sektor pariwisata dan masyarakat sekitar kawasan Prambanan.
Penelitian ini juga mengungkap adanya perubahan peran PT TWC dalam penyelenggaraan festival. Jika pada masa awal TWC berperan sebagai mitra bisnis yang terlibat langsung dalam pengembangan acara, saat ini perannya lebih banyak sebagai pemilik lahan dan pemberi izin. Perubahan tersebut dinilai mengurangi kapasitas TWC untuk memastikan bahwa nilai-nilai budaya lokal tetap menjadi bagian utama dari identitas festival.
Tim peneliti menyebut kondisi tersebut sebagai “hibriditas asimetris”, yaitu situasi ketika budaya lokal dan global memang berpadu secara estetis, tetapi secara struktural keputusan-keputusan penting festival masih lebih dipengaruhi oleh kepentingan industri hiburan global.
Penelitian merekomendasikan agar PT TWC memperkuat kerja sama dengan penyelenggara melalui kebijakan yang lebih tegas terkait pelestarian budaya lokal, termasuk pengaturan proporsi seniman lokal, program edukasi budaya Jawa, serta pelibatan komunitas sekitar dalam penyelenggaraan festival.
Dengan demikian, Prambanan Jazz tidak hanya menjadi ajang hiburan internasional, tetapi juga dapat berfungsi sebagai sarana pelestarian dan penguatan identitas budaya lokal di tengah arus globalisasi yang semakin kuat. (*)








