Akui Ada Anak Tidak Sekolah, Pemkab Purworejo Berikan Beasiswa untuk Tekan Resiko Putus Sekolah

Kepala Dindikbud Purworejo Yudhie Agung Prihatno saat memberikan keterangan kepada wartawan.

PURWOREJO, epurworejo.com – Permasalahan anak tidak sekolah maupun berisiko putus sekolah masih menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Purworejo. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Purworejo, Yudhie Agung Prihatno, tidak memungkiri bahwa kondisi tersebut masih ditemukan di sejumlah wilayah.

“Kita memang punya data bahwa ada anak-anak yang tidak sekolah dan ada pula yang berisiko tidak melanjutkan. Ini fakta yang harus kita sikapi bersama,” kata Yudhie.

Sebagai upaya pencegahan, Pemkab Purworejo telah menyiapkan program beasiswa khusus bagi anak-anak yang menghadapi kendala dalam pembiayaan pribadi untuk menunjang kegiatan belajar. Bantuan ini bukan untuk biaya sekolah, melainkan untuk memenuhi kebutuhan individu yang kerap menjadi hambatan, seperti kebutuhan alat belajar, transportasi, atau kebutuhan pribadi lainnya yang berdampak pada kehadiran mereka di sekolah.

“Program beasiswa ini untuk memberikan kepastian. Kebutuhan pribadi anak harus dipenuhi agar proses belajar mereka tidak terganggu,” jelasnya.

Untuk besarannya, beasiswa diberikan sebesar Rp900 ribu untuk jenjang SD dan Rp1 juta untuk jenjang SMP.

Selain pemberian bantuan, pendekatan langsung kepada anak dan keluarga juga terus dilakukan. Yudhie menegaskan bahwa sekolah merupakan kewajiban, sehingga pemetaan dilakukan sejak awal untuk mengetahui siapa saja yang membutuhkan intervensi.

Baca Juga :  Warga Bruno Berharap Jaringan Internet Ditingkatkan

“Kalau dari pemetaan terlihat bahwa tanpa bantuan anak itu bisa putus sekolah, maka beasiswa diberikan untuk mencegah itu,” imbuh Yudhie.

Ia juga mendorong semua pihak untuk terlibat, tidak hanya pemerintah. Masyarakat, pihak sekolah, hingga Pemerintah Desa diharapkan aktif melaporkan jika mengetahui ada anak yang terancam tidak bisa melanjutkan pendidikan karena kendala biaya pribadi.

“Jangan hanya menunggu dari dinas. Jika sekolah tahu ada siswanya yang kesulitan, atau masyarakat melihat potensi anak tidak sekolah, segera informasikan. Harapannya, kran bantuan ini terbuka untuk siapa saja yang layak,” ujarnya.

Saat ini, program beasiswa sudah berjalan untuk jenjang SD dan SMP, serta pendidikan kesetaraan hingga Paket C. Adapun jumlah penerima terdiri dari 46 anak jenjang SD, 45 anak SMP, dan 75 anak pada pendidikan kesetaraan.

Yudhie menegaskan bahwa permasalahan putus sekolah sangat kompleks, dengan berbagai latar belakang penyebab. Karena itu, setiap anak yang dinilai layak mendapat bantuan akan diperjuangkan.

“Apa pun itu, kalau ada yang layak menerima, akan kita perjuangkan. Tidak ada anak yang boleh kehilangan kesempatan bersekolah hanya karena masalah biaya pribadi,” tegasnya.(*)