Di Jateng, Ratusan Anak Muda Menitipkan Mimpi ke Negeri Sakura

SEMARANG, epurworejo.com – Ratusan anak muda memenuhi halaman Kantor Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah, Senin pagi (6/7/2026). Mengenakan pakaian olahraga, mereka berbaris rapi, menunggu satu demi satu tahapan seleksi Program Magang ke Jepang 2026.

Di antara deretan peserta itu, tersimpan cerita yang nyaris serupa: mimpi memperbaiki kehidupan keluarga.

Bagi sebagian orang, Jepang mungkin hanya sebuah negara maju. Namun bagi 401 peserta yang mengikuti seleksi hari itu, Negeri Sakura adalah harapan. Harapan untuk membantu orang tua, membiayai sekolah adik, hingga membawa pulang ilmu tentang disiplin dan budaya kerja yang kelak ingin mereka terapkan di tanah air.

Bima Sujatmiko (18), pemuda asal Pemalang, berdiri dengan keyakinan yang dibangun dari latihan berbulan-bulan. Siang dan malam ia mengasah kemampuan matematika. Setiap hari ia melatih fisik dengan push-up, sit-up, dan berlari. Semua dilakukan demi satu tujuan.

“Untuk meningkatkan ekonomi keluarga agar bisa membiayai sekolah adik,” katanya singkat.

Perjuangan serupa juga dibawa Andi Ardiansyah dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Jalan hidupnya tidak selalu mudah. Selepas SMA, keterbatasan ekonomi membuatnya harus menunda kuliah. Ia kemudian merantau ke Jawa, memperoleh beasiswa, dan berhasil menyelesaikan pendidikan di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya pada Februari 2026.

Kini, ia ingin melangkah lebih jauh. Baginya, Jepang bukan hanya tempat bekerja, melainkan ruang belajar. Ia ingin memahami langsung bagaimana masyarakat Jepang membangun budaya kerja yang disiplin, tertib, dan produktif, lalu membawa nilai-nilai itu kembali ke Indonesia.

“Motivasi saya ingin belajar bagaimana bekerjanya orang Jepang, sehingga bisa mengaplikasikannya di Indonesia,” ujarnya.

Di balik impian itu, tersimpan keinginan sederhana namun besar maknanya: membantu adik-adiknya memperoleh pendidikan yang lebih baik.

Cerita lain datang dari Eko Prasetyo asal Tegal. Ia melihat program magang bukan sekadar kesempatan mencari penghasilan, tetapi juga bekal untuk membuka peluang bagi orang lain setelah kembali ke Indonesia.

Menurutnya, budaya kerja Jepang yang mengedepankan disiplin, ketepatan waktu, saling menghormati, dan tanggung jawab menjadi nilai yang ingin ia pelajari.

“Kalau salah minta maaf, menyapa saat bertemu orang, dan masuk kerja tidak telat,” katanya, mengulang hal-hal yang telah ia pelajari tentang dunia industri Jepang.

Baca Juga :  Korban Banjir Plumbon Dapat Bantuan, Normalisasi Sungai dan Huntara Disiapkan

Tahun ini, Program Magang ke Jepang menarik minat besar. Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah Ahmad Aziz menyebutkan sebanyak 508 orang mendaftar. Dari jumlah itu, 401 peserta hadir mengikuti seleksi.

Mayoritas peserta berasal dari Jawa Tengah, sementara sisanya datang dari berbagai daerah seperti Jawa Timur, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Banten, Bali, DKI Jakarta, Lampung, Kalimantan Utara, hingga Nusa Tenggara Barat. Keberagaman asal peserta memperlihatkan bahwa kesempatan belajar dan bekerja di Jepang menjadi impian anak muda dari berbagai penjuru Indonesia.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menilai tingginya minat tersebut menunjukkan bahwa tenaga kerja Indonesia memiliki daya saing di tingkat internasional. Menurutnya, kepercayaan itu harus dijaga dengan kompetensi dan etos kerja yang baik.

“Tenaga kerja Indonesia tidak kalah dengan tenaga kerja negara-negara lain. Etos kerja Indonesia patut diperhitungkan sebagai sumber daya manusia yang kompetitif di internasional,” ujarnya.

Di hadapan para peserta, Luthfi juga mengingatkan bahwa hasil seleksi bukanlah akhir dari perjalanan. Mereka yang belum berhasil tidak boleh kehilangan semangat.

“Kegagalan adalah suatu keberhasilan yang tertunda. Tidak usah berkecil hati manakala nanti ada yang diterima atau tidak. Saya bangga hari ini kamu telah mencoba,” katanya.

Pesan serupa datang dari Wakil Direktur IM Japan, Yamauchi Takeshi. Ia mengingatkan, tujuan utama program magang bukan semata-mata memperoleh penghasilan, melainkan membentuk karakter, mempelajari etos kerja, dan meningkatkan keterampilan.

“Bekerja di Jepang bukanlah hal yang mudah. Namun, ada sangat banyak hal yang bisa dipelajari,” ujarnya.

Pagi itu, seleksi memang hanya berlangsung beberapa jam. Namun bagi ratusan anak muda yang berdiri di halaman Disnakertrans Jawa Tengah, hari itu bisa menjadi awal dari perjalanan panjang mengubah nasib.

Sebab di balik setiap nomor peserta, tersimpan doa orang tua, harapan adik-adik yang masih bersekolah, dan keyakinan bahwa kerja keras hari ini suatu saat akan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik. (*)