PGRI Siap Kolaborasi dengan Dewan Pendidikan, Berkomitmen Atasi Masalah Anak Tidak Sekolah di Purworejo

PUROWREJO, epurworejo.com – Ketua PGRI Kabupaten Purworejo, Irianto Gunawan, menegaskan kesiapan organisasinya untuk berkolaborasi dengan Dewan Pendidikan Kabupaten Purworejo masa jabatan 2025–2030. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat upaya peningkatan kualitas pendidikan sekaligus menangani persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS) yang masih ditemukan di beberapa wilayah.

Hal itu disampaikan Irianto saat ditemui wartawan pada Selasa (18/11/2025), menanggapi pelantikan resmi anggota Dewan Pendidikan oleh Bupati Purworejo. Menurutnya, kehadiran Dewan Pendidikan memberi ruang baru bagi berbagai pemangku kepentingan pendidikan untuk bekerja lebih sinergis.

“Rencana nanti jika PGRI punya temuan di lapangan, akan kami sampaikan kepada Dewan Pendidikan. Nantinya akan digodok bersama dinas pendidikan untuk merumuskan solusinya. PGRI sangat siap berkolaborasi,” ujarnya. Ia berharap Dewan Pendidikan dapat merespons cepat setiap masukan maupun laporan dari PGRI.

Salah satu perhatian bersama adalah persoalan anak tidak sekolah (ATS) dan anak yang berisiko drop out, termasuk mereka yang sudah lulus SD tetapi enggan melanjutkan ke jenjang berikutnya. Meski jumlahnya tidak besar, Irianto menegaskan bahwa keberadaannya tetap harus menjadi perhatian serius.

Baca Juga :  Bedah Deep Learning, Dr Sugiman Dorong Guru Muhammadiyah Siapkan Generasi Emas

“Di Purworejo memang tidak banyak, tetapi ada. Salah satu contohnya anak-anak punk yang berkeliaran di jalan. Kalau sudah sampai ke situ, penanganannya jauh lebih sulit. Ini terjadi karena secara sosial mereka tidak terdeteksi sejak awal,” jelasnya.

Selama ini, Dinas Pendidikan bersama PGRI telah melakukan pendekatan langsung hingga ke desa-desa untuk mengidentifikasi dan mengupayakan agar anak-anak tersebut kembali bersekolah. Upaya ini juga mencakup pendampingan terhadap anak usia belum SD yang memiliki hambatan, termasuk anak-anak disabilitas dengan keterbatasan gerak.

Tak hanya faktor kemampuan anak, pola pikir sebagian orang tua juga menjadi tantangan tersendiri. Irianto mengungkapkan masih ada orang tua yang belum memiliki cara pandang maju terkait pendidikan. Mereka lebih memilih melibatkan anak dalam pekerjaan keluarga dibanding melanjutkan sekolah.

“Di Purworejo ini masih ada orang tua yang menganggap anak sudah cukup bekerja setelah lulus SD. Mereka diajak ikut mencari nafkah, misalnya di ladang atau pekerjaan harian lainnya. Ini menjadi tantangan yang harus kita hadapi bersama,” tegasnya.(*)