BANYUURIP, epurworejo.com -Bersih desa dan ritual di Situs Sumur Beji Candi kembali digelar warga Dusun Candi, Desa Candingasinan, Kabupaten Purworejo. Kegiatan ini rutin dilakukan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.
Dari yang sudah dilakukan secara turun temurun kegiatan ini dilakukan di tanggal 27 Rajab penanggalan Jawa dan dilanjutkan dengan rangkaian tradisi Nisfu Sya’ban pada malam 15 Ruwah dalam penanggalan Jawa.
Juru kunci Situs Beji Candi, Eko Wibowo, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan amanah dari masyarakat yang telah dijalankan secara turun-temurun oleh para leluhur. Tradisi diawali dengan bersih-bersih area sumur, kemudian dilanjutkan dengan penyembelihan dua ekor kambing sebagai bagian dari ritual merti desa.
“Tradisi ini sudah dilakukan sejak lama sebagai bentuk rasa syukur dan doa bersama. Konon, wilayah Candingasinan dahulu merupakan gabungan dari tiga desa, yakni Dusun Candi, Desa Ngemplak, dan Desa Sinan, yang kemudian disatukan karena keterbatasan wilayah,” ujar Eko, Selasa (4/2/2026).
Menurutnya, pelaksanaan merti desa selalu jatuh pada tanggal 27 Rajab, sedangkan ritual Nisfu Sya’ban dilakukan pada malam 15 Ruwah. Masyarakat meyakini bahwa malam tersebut memiliki makna spiritual, di mana air Sumur Beji dipercaya dapat digunakan untuk membersihkan diri sebagai persiapan menyambut ibadah puasa Ramadhan.
“Dalam kepercayaan masyarakat, air Sumur Beji diyakini sebagai sumber kehidupan dan sarana pensucian diri. Ini bukan soal mistis, tetapi sugesti dan keyakinan bahwa dengan hati dan pikiran yang bersih, memohon kepada Allah SWT, maka keberkahan itu akan datang,” jelasnya.
Eko juga menuturkan legenda yang berkembang di masyarakat mengenai asal-usul Sumur Beji, yang dikaitkan dengan sosok leluhur Eyang Panji Nukerto. Konon, sumur tersebut merupakan peninggalan beliau yang dahulu berniat membuat aliran sungai demi kesejahteraan masyarakat, namun akhirnya hanya meninggalkan sumur sebagai sumber air bagi warga.
“Harapan kami, sebagai penerus dan penjaga situs ini, budaya dan tradisi leluhur tetap dijaga dan dilestarikan. Ini bagian dari nguri-uri budaya,” imbuh Eko yang juga merupakan menantu dari juru kunci sebelumnya, Mbah Parto Sujono.
Sementara itu, Aris, salah satu tokoh masyarakat Dusun Candi, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan secara gotong royong oleh warga. Persiapan dilakukan secara swadaya tanpa panitia resmi, melainkan hanya kepanitiaan kecil yang bersifat rutin.
“Semua kebutuhan kegiatan dipersiapkan bersama oleh warga. Ke depan, kami berharap ada pengembangan kegiatan, misalnya pengenalan adat, penggunaan kostum tradisional, atau acara budaya lainnya agar lebih tertata,” ujarnya.
Aris juga menyebutkan bahwa jumlah pengunjung setiap tahun cukup banyak dan biasanya meningkat pada malam hari. Selain warga lokal, pengunjung juga datang dari wilayah lain seperti Kecamatan Banyuurip, Kutoarjo, hingga Purworejo. Kehadiran pedagang dari luar daerah turut memberi dampak ekonomi bagi masyarakat.(*)








