Tujuh Tahun Pasar Inis Bertahan, Festival Tumpeng Telang Perkuat Kolaborasi Budaya

Salah satu tampilan anak dalam Festival Pasar Inis.

PURWODADI, epurworejo.com – Festival Tumpeng Telang ke-7 di Pasar Inis, Brondongrejo, tak sekadar menandai bertambahnya usia pasar rakyat tersebut. Kegiatan ini juga menjadi ruang belajar, kolaborasi, sekaligus penguatan nilai budaya yang melibatkan pelaku seni dari berbagai daerah.

Pelaku seni Bundengan asal Wonosobo, Mulyani, mengaku bersyukur dapat terlibat dalam rangkaian kegiatan di Pasar Inis. Menurutnya, konsistensi Pasar Inis bertahan hingga tujuh tahun merupakan hal luar biasa.

“Saya berterima kasih mendapat undangan untuk belajar di Pasar Inis. Tujuh tahun tetap bertahan itu tidak mudah,” kata Mulyani, Minggu (5/1/2026).

Mulyani menilai, kekuatan utama Pasar Inis terletak pada kekompakan para penggeraknya. Soliditas tersebut dinilai menjadi kunci keberlangsungan setiap kegiatan yang digelar.

Ia juga mengapresiasi inisiatif perrakarsa Pasar Inis, Rianto Purnomo atau yang akrab disapa Lek Pur, yang secara konsisten mengangkat unsur budaya dalam setiap aktivitas pasar.

“Pasar seperti ini ketika dikolaborasikan dengan budaya menjadi sesuatu yang sangat keren,” ujarnya.

Mulyani berharap upaya pelestarian budaya di Pasar Inis terus berlanjut, khususnya dalam proses transfer pengetahuan seni dari generasi tua ke generasi muda agar tetap lestari.

Baca Juga :  Tindaklanjuti Keluhan Pedagang Baledono, Mas Wabup Langsung Ngegas

Sementara itu, Anon Suneko dari Gamelanon Yogyakarta menyampaikan bahwa kolaborasi dengan Pasar Inis telah terjalin hampir setiap tahun, termasuk pada Festival Tumpeng Telang ke-7.

“Setiap tahun kami dari Rumah Gamelan Jogja hampir selalu berkolaborasi dengan Pasar Inis,” katanya.

Anon menilai Pasar Inis memiliki potensi kuat karena mampu memadukan kuliner, alam, dan kesenian dalam satu ruang yang saling menguatkan. Beragam kolaborasi seni, mulai dari tari, musik etnik hingga musisi lintas daerah, pernah dihadirkan dalam kegiatan Pasar Inis.

Ia juga mengaku terkesan dengan Kabupaten Purworejo yang dinilainya memiliki daya tarik tersendiri, baik dari bentang alam maupun keramahan masyarakatnya.

“Purworejo tetap eksotik dengan sawahnya dan masyarakat yang ramah. Saya juga menyukai kesenian rakyatnya seperti Ndolalak dan Cingpoling,” tuturnya.

Anon berharap Pasar Inis dapat terus langgeng sebagai pasar rakyat yang tumbuh secara organik dan menjadi pembeda.

“Semoga Pasar Inis terus berjalan sebagai milik rakyat, dengan keindahan sawah, kuliner sehat, dan suasana masyarakatnya,” pungkasnya.(*)