KUTOARJO, purworejo24.com – Dalam rangka menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, Pemerintah Kabupaten Purworejo melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dinpusip) kembali menggelar Festival Literasi Purworejo 2026. Berlangsung selama 11 hari, mulai 14 hingga 24 Agustus 2026, festival ini menghadirkan berbagai kegiatan edukatif, pameran buku, talkshow, hingga aneka perlombaan yang melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan.
Kepala Bidang Perpustakaan Dinpusip Purworejo, Sigit Sudibyo, mengatakan Festival Literasi bukan sekadar menjadi bagian dari kemeriahan peringatan kemerdekaan, tetapi juga merupakan upaya strategis untuk membangun budaya membaca dan meningkatkan literasi masyarakat.
“Festival Literasi diharapkan menjadi momentum untuk semakin mengobarkan minat baca masyarakat serta memperkuat budaya literasi di Kabupaten Purworejo,” ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Tahun ini, Festival Literasi dipastikan hadir lebih semarak dibanding penyelenggaraan sebelumnya. Salah satu daya tarik utama adalah Pameran Buku Utama yang melibatkan sejumlah penerbit nasional, seperti Gramedia, Mizan, dan Paguyuban Penerbit Jogja (PPJ). Pengunjung akan disuguhi ribuan koleksi buku dari berbagai genre dengan berbagai penawaran menarik.
Selain pameran buku, panitia juga tengah mengupayakan kehadiran sejumlah tokoh literasi dan akademisi ternama. Salah satunya Peter Carey, sejarawan dan penulis yang dikenal melalui kajiannya tentang sejarah Jawa, termasuk karya Babad Kedung Kebo. Kehadirannya masih dalam tahap konfirmasi, baik secara langsung maupun melalui konferensi daring karena menyesuaikan jadwal kepulangannya ke luar negeri.
Festival juga direncanakan menghadirkan Dr. Sudibyo, M.Hum., pakar budaya dan sejarah Indonesia, yang akan membahas sejarah Purworejo, Babad Kedung Kebo, hingga kekayaan gastronomi daerah. Selain itu, akan digelar Creative Talk dan Talkshow Penulis bersama penulis-penulis pilihan dari Gramedia.
Menurut Sigit, menghadirkan Peter Carey merupakan bagian dari upaya memperkenalkan kembali sejarah lokal kepada masyarakat.
“Harapannya, masyarakat semakin mengenal sejarah Purworejo melalui karya-karya ilmiah yang telah ditulis sehingga tumbuh rasa bangga terhadap warisan budaya daerah,” jelasnya.
Festival Literasi juga akan diramaikan berbagai kompetisi kreatif. Di antaranya Lomba Menyanyi Solo untuk kategori pelajar dan umum bekerja sama dengan Radio Irama FM yang digelar pada 19–21 Agustus 2026 di area Perpustakaan Umum Kutoarjo. Kategori pelajar dapat mengikuti lomba secara gratis, sedangkan kategori umum terbuka tanpa batas usia.
Tak hanya itu, Lomba Mewarnai hasil kolaborasi Dinpusip, Gramedia, Agatis, dan Purworejo Fine Art (PFA) akan berlangsung pada 23 Agustus 2026 di Pendopo Wakil Bupati Kutoarjo. Perlombaan ini diperuntukkan bagi anak usia PAUD hingga siswa SD kelas III dengan total hadiah mencapai jutaan rupiah.
Festival juga memberikan ruang bagi sekolah dan komunitas di Purworejo untuk menampilkan berbagai pertunjukan seni, kreativitas, dan bakat di atas panggung sebagai bagian dari semarak literasi.
Di sisi lain, Dinpusip Purworejo terus meningkatkan kualitas layanan perpustakaan. Perpanjangan jam operasional hingga malam hari, termasuk layanan pada akhir pekan, dinilai berhasil meningkatkan jumlah kunjungan masyarakat.
Hingga akhir tahun 2025, Perpustakaan Umum Kabupaten Purworejo telah memiliki lebih dari 55.300 koleksi buku fisik serta 9.953 judul buku digital (e-book). Pada semester pertama tahun ini, koleksi perpustakaan juga bertambah 1.353 eksemplar buku baru, sementara penambahan tahap berikutnya direncanakan pada Oktober mendatang.
Sigit menilai tingginya minat masyarakat Purworejo membeli buku menjadi sinyal positif bagi perkembangan literasi daerah. Namun, ia berharap kebiasaan tersebut tidak berhenti pada aktivitas membeli buku semata.
“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat benar-benar membiasakan diri membaca dan menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” katanya.
Melalui Festival Literasi Purworejo 2026, Pemerintah Kabupaten Purworejo berharap semangat kemerdekaan dapat diisi dengan peningkatan budaya membaca, kecintaan terhadap sejarah daerah, serta lahirnya sumber daya manusia yang berkualitas melalui literasi yang semakin kuat. (*)








