PURWOREJO, epurworejo.com – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menelan korban jiwa di Kabupaten Purworejo. Satu warga Desa Lubang Dukuh, Kecamatan Butuh, dilaporkan meninggal dunia akibat DBD, memicu langkah cepat Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Purworejo untuk melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus secara menyeluruh.
Laporan kasus kematian tersebut diterima dari RS Palang Biru Kutoarjo pada Rabu (28/1/2026). Tak menunggu lama, sehari berselang, Tim Gerak Cepat (TGC) Dinkesda Purworejo bersama Puskesmas Butuh langsung turun ke lapangan untuk melakukan PE serta berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Lubang Dukuh.
Kepala Dinkesda Kabupaten Purworejo, dr. Sudarmi, menegaskan bahwa hasil PE menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Jentik nyamuk masih ditemukan di lingkungan sekitar rumah kasus, menandakan lemahnya pengendalian vektor dan tingginya potensi penularan DBD di wilayah tersebut.
“Temuan jentik ini menjadi sinyal bahaya. Artinya, penularan DBD sangat mungkin terjadi jika PSN tidak dilakukan secara serius dan berkelanjutan,” tegas dr. Sudarmi saat diwawancarai, Kamis (5/3/2026).
Sebagai respons, pada Selasa (3/2/2026), Dinkesda Purworejo bersama Puskesmas Butuh menggelar PSN 3M Plus secara serentak di seluruh Desa Lubang Dukuh dengan melibatkan masyarakat dan Pemerintah Desa. Namun, hasil evaluasi menunjukkan kondisi belum aman.
Berdasarkan penilaian Angka Bebas Jentik (ABJ), Desa Lubang Dukuh hanya mencatatkan angka 76 persen. Angka ini jauh di bawah standar aman pengendalian DBD yang ditetapkan, yakni di atas 95 persen.
“Dengan ABJ 76 persen, wilayah ini masih sangat rawan. Kalau masyarakat lengah, kasus serupa bisa terulang,” lanjutnya.
Dinkesda Purworejo memastikan penguatan langkah pencegahan akan terus dilakukan, mulai dari PSN 3M Plus rutin minimal satu kali setiap minggu, peningkatan edukasi langsung ke masyarakat, pemeriksaan kesehatan bagi warga yang mengalami gejala DBD, hingga pemantauan ketat terhadap kemungkinan munculnya kasus baru.
Dr. Sudarmi mengingatkan bahwa pencegahan DBD bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, melainkan seluruh elemen masyarakat. Ia menekankan pentingnya gerakan 1 Rumah 1 Jumantik dan kebiasaan PSN 3M Plus sebagai langkah paling efektif memutus rantai penularan.
“DBD bukan penyakit biasa. Sudah ada korban jiwa. Jangan tunggu ada kasus baru baru bergerak,” tandasnya.
Dinkesda Purworejo mengimbau warga untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila mengalami demam tinggi, nyeri kepala, atau gejala lain yang mengarah pada DBD, agar dapat ditangani sejak dini dan tidak berujung fatal. (*)
Baca Berita Pantura


















