Tak Gentar Meski Sempat Dilarang Istri, Jemaah Haji Purworejo Tetap Kenakan Seragam Pramuka

PURWOREJO, epurworejo.com – Di antara lautan jemaah haji yang bergerak menuju Jamarat di Mina, ada satu sosok yang tampil berbeda. Bukan karena suaranya paling lantang atau langkahnya paling cepat, melainkan karena pakaian yang dikenakannya.

Saat ribuan jemaah dari berbagai negara mengenakan busana yang hampir seragam, seorang jemaah asal Kabupaten Purworejo justru tampak mencolok dengan seragam Pramuka lengkap berwarna cokelat dan slayer yang melingkar di lehernya.

Dialah Drs Iswahyudi (58), guru MTsN 2 Purworejo yang tergabung dalam Kloter 26 Embarkasi Yogyakarta International Airport (YIA).

Hari itu merupakan hari ketiga rangkaian lempar jumrah, dimana memang dibolehkan bagi jamaah memakai pakaian bebas, asalkan tetap sopan. Setelah menuntaskan lempar Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah, Iswahyudi pada Jumat (29/5) mengabadikan momen di dekat Jamarat dengan berfoto memakai seragam pramuka. Foto tersebut kemudian beredar luas di media sosial dan menarik perhatian banyak orang, termasuk para pegiat Pramuka di Indonesia.

“Awalnya memang agak malu. Bahkan sempat ditegur istri supaya tidak memakai seragam Pramuka. Tapi saya tetap mantap mengenakannya,” katanya, saat dihubungi melalui pesan singkat, Sabtu (30/5).

Bagi Iswahyudi, mengenakan seragam Pramuka di Tanah Suci bukan sekadar mencari perhatian. Ada kecintaan panjang yang melatarbelakanginya.

Pria yang tinggal di Kelurahan Cangkrepkidul, Kecamatan Purworejo itu telah mengabdikan diri di dunia kepramukaan selama lebih dari tiga dekade.

Perjalanan itu dimulai pada 1994 ketika ia menjadi pembina Pramuka di SMP Bharata Bener. Kecintaannya terus tumbuh. Tahun 2004 ia mengikuti Kursus Mahir Dasar (KMD), kemudian Kursus Mahir Lanjutan (KML) pada 2006 untuk memperdalam pengetahuan kepramukaan.

Pengabdian panjang tersebut membawanya menerima penghargaan Satyalancana Pancawarsa IV dari Kwartir Nasional pada 2020 sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi lebih dari 20 tahun di bidang kepramukaan.

Hingga kini, Iswahyudi masih aktif sebagai pengurus Kwartir Cabang Purworejo bidang Pramuka Peduli (Pramuli), Wakil Ketua Kwartir Ranting Bener, dan di MTsN 2 Purworejo sebagai KA Gudep sekaligus pembina Pramuka.

Karena itulah, saat menunaikan ibadah haji tahun ini, ia memiliki keinginan khusus.

“Kalau di kegiatan Pramuka sudah biasa memakai seragam. Saya ingin menunjukkan bahwa semangat Pramuka bisa hadir di mana saja, bahkan saat menjalankan ibadah haji,” ujar pria lulusan UIN Sunan Kalijaga ini.

Keinginan tersebut akhirnya diwujudkan saat aturan di Mina memperbolehkan jemaah mengenakan pakaian bebas setelah tahapan tertentu ibadah haji. Hari pertama ia mengenakan kain ihram, hari kedua memakai seragam batik kelompok bimbingan ibadah haji, dan pada hari ketiga memilih seragam Pramuka.

Baca Juga :  Resmi Dilaunching, Purworejo Investment Center Buka Peluang Investasi Berkelanjutan

Tak disangka, langkah sederhana itu justru menghadirkan pengalaman yang tak terlupakan.

Di sepanjang perjalanan menuju Jamarat, banyak jemaah menyapanya dengan salam Pramuka. Ada pula yang mengajak berfoto bersama sebagai kenang-kenangan.

Bahkan, ia bertemu sesama pegiat Pramuka dari berbagai daerah, mulai dari Lampung hingga Trenggalek, Jawa Timur.

“Alhamdulillah bisa bertemu kakak pembina dari Kwarcab Trenggalek dan pegiat Pramuka dari Lampung. Kami saling bertukar cerita,” kata Iswahyudi, alumni MTsN 1 Purworejo dan MAN Purworejo.

Kehadirannya juga menarik perhatian petugas keamanan Arab Saudi atau askar. Bukannya ditegur, Iswahyudi justru diajak berfoto bersama.

Bagi ayah lima anak ini, momen tersebut menjadi bukti bahwa nilai-nilai Pramuka mampu menjadi bahasa persaudaraan yang dipahami banyak orang.

Lebih dari itu, ia berharap apa yang dilakukannya dapat mengingatkan para anggota Pramuka untuk terus mengamalkan Dasa Darma dalam kehidupan sehari-hari.

“Di mana pun berada, kita harus tetap memegang nilai Dasa Darma. Saat berhaji pun saya berusaha menerapkan Dasa Darma kedua, cinta alam dan kasih sayang sesama manusia, serta Dasa Darma kelima, rela menolong dan tabah,” tuturnya.

Sebagai ketua regu selama pelaksanaan ibadah haji, ia berupaya membantu anggota rombongan yang membutuhkan bantuan, mulai dari mengarahkan perjalanan hingga memastikan seluruh anggota regu tetap bersama.

Perjalanan spiritual Iswahyudi menuju Tanah Suci sendiri tidaklah singkat. Bersama sang istri, Ani Sa’adah, ia menabung dan menunggu antrean selama 13 tahun sejak mendaftar haji pada 2013.

“Terimakasih kepada pendukung rangkaian ibadah haji, mulai dari Kemenhaj Purworejo, Pemkab Purworejo, Dinas Kesehatan, tenaga medis RSUD Tjitrowardoyo dan Puskesmas Cangkrep Purworejo, Sekda Purworejo, bapak Suranto yang menjadi Ketua Rombongan, para pendamping haji, juga peran dari KBIH NU Purworejo,” ungkapnya.

Kini, setelah akhirnya menjejakkan kaki di Makkah dan Mina, ia tidak hanya membawa doa-doa terbaik, tetapi juga membawa identitas yang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya selama puluhan tahun.

Di tengah jutaan jemaah yang datang dari berbagai penjuru dunia, seragam Pramuka yang dikenakannya memang terlihat sederhana. Namun di balik warna cokelat itu tersimpan kisah panjang tentang pengabdian, pendidikan karakter, dan semangat menolong sesama yang terus ia bawa hingga ke Tanah Suci.

Bagi Iswahyudi, menjadi Pramuka bukan sekadar mengenakan seragam. Tetapi adalah nilai yang tetap hidup, bahkan ketika berdiri di hadapan Jamarat, di antara jutaan umat yang sedang menyempurnakan rukun Islam kelima. (*)