BAGELEN, epurworejo.com – Pagi itu, suara motor tua memecah sunyi jalan desa. Di bagian belakangnya, puluhan anyaman bambu tersusun rapi, tengok dan tampah siap diantar ke para petani. Di balik setang motor itu, ada sosok Suwari (56), perajin bambu asal Desa Pucangagung, Kecamatan Bayan, yang telah puluhan tahun menekuni pekerjaan yang tak lekang oleh zaman.
Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, Suwari sudah akrab dengan bilah-bilah bambu. Sepulang sekolah, ia tak langsung bermain seperti anak seusianya, melainkan membantu membuat anyaman sederhana. Dari situlah keterampilan itu terus terasah, hingga akhirnya ia memberanikan diri berjualan sendiri.
“Dulu habis sekolah langsung jualan,” ujar Suwari saat singgah di kompleks Gardu 21 Kemanukan, Bagelen, Selasa (21/4/2026).
Kini, di usianya yang tak lagi muda, Suwari tak hanya menjadi perajin, tetapi juga penggerak ekonomi kecil di lingkungannya. Ia memiliki delapan orang pekerja yang membantunya memproduksi tengok dan tampah dan hasil kerajiana lain dari bambu. Meski begitu, keterampilan dasar membuat anyaman tetap ia kuasai dengan baik, menjadi bekal penting dalam menjaga kualitas produksinya.
Hasil kerajinan itu kemudian dijajakan dengan cara sederhana namun efektif: berkeliling menggunakan sepeda motor. Hampir seluruh wilayah Purworejo pernah ia singgahi. Ia hafal betul ritme kehidupan petani, terutama saat musim panen tiba. Pada momen itulah permintaan meningkat, dan Suwari menyesuaikan jenis barang yang dibawa.
Dalam sekali perjalanan, ia bisa membawa hingga 80 buah anyaman. Tak hanya fleksibel dalam jenis dagangan, sistem pembayarannya pun mengikuti kondisi masyarakat. Selain uang tunai, ia juga menerima pembayaran dengan gabah.
“Kadang dibayar gabah, nanti bisa dipakai lagi atau dijual,” ujarnya.
Untuk bahan baku, Suwari memilih bambu dari sekitar rumahnya. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Jika harus membeli dari luar desa, biaya penebangan dan pengangkutan justru membuat usahanya merugi. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, ia mampu menjaga keberlangsungan usaha sekaligus menekan biaya produksi.
Di tengah gempuran produk modern, tengok dan tampah mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Suwari, setiap anyaman adalah bagian dari tradisi yang tetap hidup yang menghubungkan kerajinan tangan, kebutuhan petani, dan denyut ekonomi desa.
Dari bilah-bilah bambu yang dianyam dengan telaten, Suwari tak hanya menciptakan barang, tetapi juga menganyam harapan untuk dirinya, keluarganya, dan delapan pekerja yang menggantungkan hidup dari usaha tersebut. (*)
Baca Berita Pantura









