Bramantyo Ajak Perguruan Tinggi Ciptakan Inovasi yang Menjawab Kebutuhan Masyarakat

PURWOREJO, epurworejo.com – Penguatan talenta akademik melalui inovasi teknologi dan hilirisasi riset menjadi fokus dalam Workshop Bina Talenta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI Tahun 2026 yang digelar di Kabupaten Purworejo. Kegiatan berlangsung selama dua hari, Rabu-Kamis (5-6/8/2026), di STIE Rajawali, Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP), dan Institut Teknologi Bisnis dan Kesehatan Bhakti Putra Bangsa Indonesia (IBISA) Purworejo.

Workshop hasil kolaborasi Komisi X DPR RI, Kemdiktisaintek RI, dan IBISA Purworejo itu bertujuan memperkuat kapasitas talenta akademik sekaligus mendorong hasil riset perguruan tinggi agar mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta meningkatkan daya saing daerah.

Dalam kegiatan di IBISA Purworejo, Kamis (6/8/2026), Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Bramantyo Suwondo M.IR, mengatakan perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, transformasi digital, dan persaingan global menuntut daerah memiliki sumber daya manusia yang unggul serta mampu melahirkan inovasi yang berdampak.

Menurutnya, talenta akademik tidak hanya diukur dari prestasi mahasiswa maupun banyaknya publikasi ilmiah dosen, tetapi juga dari kemampuan berpikir kritis, kreativitas, integritas, dan keberanian menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat. Karena itu, pendidikan tinggi harus mampu menjadi penggerak transformasi sosial dan ekonomi melalui paradigma “Diktisaintek Berdampak”.

Baca Juga :  Festival Layang-Layang Digelar Kembali, Catat Tanggal Pelaksanaannya

Bramantyo menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai tempat lahirnya inovator, peneliti, pemimpin, hingga pencipta lapangan kerja. Ia juga menyebut IBISA Purworejo memiliki potensi besar karena mengembangkan bidang teknologi, bisnis, dan kesehatan yang dapat melahirkan berbagai inovasi sesuai kebutuhan masyarakat.

Ia mencontohkan inovasi tersebut dapat berupa teknologi tepat guna untuk pertanian, digitalisasi UMKM, layanan kesehatan berbasis teknologi, aplikasi pelayanan publik, hingga penelitian yang mampu meningkatkan produktivitas masyarakat. Namun, ia mengingatkan agar seluruh hasil penelitian tidak berhenti pada tahap laboratorium, melainkan harus diterapkan melalui proses hilirisasi riset.

“Riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Ia harus hadir di sawah para petani, di ruang praktik tenaga kesehatan, di bengkel para pelaku industri, di toko-toko UMKM, dan di tengah kehidupan masyarakat,” tegasnya.

Selain itu, Bramantyo menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha, dunia industri, dan masyarakat agar inovasi dapat berkembang serta memberikan dampak yang lebih luas. Ia berharap IBISA Purworejo dapat menjadi salah satu simpul kolaborasi yang mendorong lahirnya riset-riset yang relevan dan bermanfaat bagi pembangunan Kabupaten Purworejo. (*)