KEMIRI, epurworejo.com – Suasana peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Dusun 3, Desa Rejosari, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, berlangsung unik sekaligus haru pada Senin (17/8/2026).
Ratusan warga dari berbagai generasi—mulai dari anak-anak hingga kelompok lanjut usia (lansia)—berkumpul memadati halaman rumah warga RT 002 RW 003, Supangat, untuk mengikuti upacara pengibaran bendera Merah Putih.
Tradisi upacara mandiri di tingkat dusun ini telah berhasil dilaksanakan secara konsisten setiap tahunnya selama tiga tahun berturut-turut.
Tak seperti upacara pada umumnya yang mengenakan seragam resmi, para peserta upacara hadir mengenakan pakaian kerja sehari-hari. Deretan petani hadir lengkap membawa tangki penyemprot hama, caping, hingga menyiagakan traktor di pinggir lapangan. Tampak pula tukang deres kelapa dengan bumbungnya, tukang bangunan dengan alat kerjanya, hingga tukang becak berdiri tegap mengikuti tiap tahapan prosesi.
Tak kalah menarik, para ibu hadir dengan pakaian sederhananya; sebagian mengkreasikan penampilannya dengan pernak-pernik khas Agustusan bernuansa merah putih, sementara ibu-ibu yang berprofesi di bidang katering tampak hadir mengenakan celemek masak mereka.
Bertindak sebagai inspektur upacara, Drs. H.M. Budiman mengapresiasi tinggi semangat warga yang tidak pernah padam menyelenggarakan upacara saban tahunnya.
“Berdiri memandang panjenengan semua membuat dada saya bergetar. Kehadiran lintas generasi dengan kostum profesi masing-masing secara rutin tiap tahun ini adalah bukti ketulusan cinta tanah air yang nyata,” ujar Budiman dalam amanatnya, Senin.
Dalam amanatnya, Budiman mengawali dengan ajakan untuk memperbanyak rasa syukur atas nikmat kemerdekaan, terutama kebebasan untuk beraktivitas dan mencari nafkah sehari-hari.
“Bentuk syukur terbesar kita atas kemerdekaan adalah kebebasan untuk beraktivitas, bekerja, dan mencari nafkah dengan tenang. Mau jadi petani, tukang deres, tukang bangunan, tukang becak, hingga ibu-ibu yang berjuang di dapur usaha katering, semua bisa berkarya tanpa rasa takut. Nikmat bebas beraktivitas inilah yang harus terus kita syukuri dan isi dengan hal-hal positif,” ungkapnya.
Budiman juga menegaskan bahwa kemerdekaan harus terus dirawat dari dalam rumah tangga melalui peran vital para ibu.
“Mengisi kemerdekaan bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga membangun manusia. Saya menitipkan pesan khusus kepada ibu-ibu di Dusun 3 untuk mendidik anak-anak dengan baik, penuh kasih sayang, serta menanamkan akhlak dan nilai kebaikan sejak dini. Dari tangan dingin para ibulah lahir generasi penerus bangsa yang tangguh dan berkarakter,” kata Budiman.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga tradisi kebersamaan di tingkat desa.
“Guyub rukun dan gotong royong adalah kekuatan utama kita. Gotong royong bukan sekadar kerja bakti, tapi ketulusan hati untuk saling membantu dan menjaga kerukunan antarwarga,” lanjutnya.
Pemandangan para lansia yang tetap bersemangat berdiri tegap di tengah lapangan sederhana milik warga setempat menjadi momentum paling menyentuh dalam pelaksanaan upacara tahunan tersebut.
Keseruan peringatan kemerdekaan di Dusun 3 ini kemudian ditutup dengan pembagian hadiah perlombaan yang telah digelar sebelumnya, serta pengundian kupon berhadiah. Puluhan doorprize menarik seperti mesin cuci, kompor gas, kipas angin, hingga setrika dibagikan kepada warga yang beruntung. Istimewanya, seluruh kegiatan dan hadiah tersebut murni berasal dari swadaya warga tanpa bantuan sponsor dari luar.(*)








