BPOB Dorong Kolaborasi UMKM Desa Penyangga melalui Pengembangan Bundling Souvenir

PURWOREJO, epurworejo.com – Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) terus memperkuat kapasitas pelaku usaha pariwisata di desa penyangga Zona Otorita Borobudur melalui kegiatan Pendampingan Usaha Pariwisata Bidang Kuliner, Kriya, Fashion, dan Eduwisata. Memasuki tahap kedua, pendampingan berfokus pada pengembangan bundling souvenir sebagai upaya mendorong kolaborasi antarpelaku usaha sekaligus meningkatkan nilai tambah produk lokal.

Mengusung tema “Penguatan Kapasitas Usaha melalui Pengembangan Bundling Souvenir”, kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian fasilitasi dan pendampingan usaha pariwisata yang dilakukan BPOB untuk membantu masyarakat mengoptimalkan potensi produk serta mengembangkan peluang usaha melalui kolaborasi.

Melalui konsep bundling kolaboratif, pelaku usaha didorong untuk memadukan sejumlah produk lokal ke dalam satu paket souvenir yang memiliki tema, identitas, dan nilai jual bersama. Pengembangan paket dilakukan dengan mempertimbangkan karakter produk, sasaran konsumen, komposisi, kemasan, serta cerita yang merepresentasikan keunikan produk dan identitas lokal Menoreh.

Dalam pendampingan ini, peserta mempelajari tahapan penyusunan paket bundling, mulai dari menentukan produk utama dan pendamping, menetapkan sasaran pembeli, merancang nama dan pesan utama paket, hingga memilih kemasan yang aman dan menarik. Peserta juga diarahkan untuk melengkapi paket dengan kartu cerita yang memuat informasi mengenai produk dan produsennya.

Kepala Divisi Pengembangan Bisnis BPOB, Ifran Suharto, menyampaikan bahwa pengembangan bundling souvenir menjadi salah satu peluang bagi UMKM untuk memperluas jangkauan pasar melalui kerja sama dan penguatan karakter produk lokal.

Baca Juga :  Warga Seputar Jrakah Bayan Dapat Pelatihan Menjahit

“Kolaborasi antarpelaku usaha membuka peluang bagi UMKM untuk saling melengkapi keunggulan produk dan menciptakan paket souvenir yang memiliki nilai tambah. Melalui pendekatan ini, produk lokal tidak hanya ditawarkan secara individual, tetapi juga dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman wisata yang memiliki identitas dan daya tarik tersendiri,” ujar Ifran.

Selain aspek produk dan kemasan, pendampingan ini menekankan pentingnya storytelling dalam membangun daya tarik sebuah paket souvenir. Cerita yang disampaikan dapat mencakup asal-usul produk, proses produksi, profil produsen, hingga manfaat produk bagi penerima. Informasi tersebut perlu disampaikan secara autentik dan dapat dipertanggungjawabkan agar memperkuat karakter produk sekaligus membangun kepercayaan konsumen.

Melalui pendekatan ini, pelaku usaha diharapkan mampu melihat peluang kolaborasi lintas bidang, seperti kuliner, kriya, dan fashion, untuk menciptakan paket produk yang lebih beragam dan relevan dengan kebutuhan konsumen. Pengembangan bundling souvenir juga diharapkan dapat memperkuat identitas produk lokal Menoreh sekaligus meningkatkan daya saing UMKM di tengah peluang pasar pariwisata.

BPOB berkomitmen untuk terus mendorong pengembangan kapasitas masyarakat dan pelaku usaha di desa penyangga Zona Otorita Borobudur melalui fasilitasi dan pendampingan secara berkelanjutan. Sinergi antara masyarakat, pelaku usaha, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat ekosistem usaha pariwisata yang berkualitas, berkarakter, dan berkelanjutan di kawasan Borobudur Highland.(*)