Ekonomi di Balik Perilaku Impulse Buying
Hampir semua orang pasti pernah buka aplikasi belanja online cuma buat lihat-lihat, tapi ujung-ujungnya ada barang yang dibeli. Penyebabnya bisa iklan, diskon besar, atau produk baru yang sebenarnya tidak kita perlukan. Barang itu tidak ada di daftar kebutuhan, bahkan sebelumnya tidak terpikir sama sekali. Kebiasaan ini disebut impulse buying atau pembelian impulsif, yaitu kesengajaan membeli tanpa pikir panjang untuk barang yang tidak terlalu dibutuhkan.
E-commerce membuat hal ini makin gampang terjadi. Konsumen hanya buka aplikasi, pilih produk, masukkan ke keranjang, lalu bayar secara virtual, ditambah tawaran diskon, cashback, gratis ongkir, flash sale, dan siaran langsung penjualan yang biasanya harganya lebih murah.
Dari sisi ekonomi, fenomena ini menarik karena sumber daya kita terbatas, sedangkan keinginan terus bertambah. Uang yang dipakai untuk barang yang tidak direncanakan punya biaya peluang (opportunity cost), sebab uang itu tidak bisa lagi dipakai untuk kebutuhan lain. Jadi impulse buying bukan sekadar soal gaya hidup, tapi bagaimana seseorang mengambil keputusan ekonomi.
Apa Itu Impulse Buying?
Kebiasaan membeli barang secara spontan tanpa pertimbangan, biasanya karena keinginan, bukan kebutuhan. Perilaku ini sering dianggap wajar sebagai self reward, tapi kalau terus diulang, dampaknya buruk bagi keuangan.
Oktaviani dan Albari (2024) menemukan bahwa interaktivitas, informativitas, dan rasa senang saat berbelanja berhubungan positif dengan online impulse buying pada pengguna e-commerce di Indonesia. Sales promotion dan fashion consciousness berpengaruh positif terhadap impulse buying pada pembeli produk fashion. Artinya, perilaku impulsif muncul dari gabungan beberapa faktor, bukan cuma karena harganya murah.
Ekonomi di Balik Keputusan Membeli
Secara ekonomi, konsumen berusaha memakai pendapatannya untuk hal yang bermanfaat dan sesuai kebutuhan. Tapi kadang kita belum bisa mengelola keuangan dengan baik, dan berakhir mengeluarkan untuk hal yang cuma-cuma.
Contohnya, seseorang punya anggaran Rp1.000.000 untuk seminggu, lalu melihat produk harga Rp50.000 yang didiskon 50 persen. Harganya terasa murah sekali, dan ia merasa sudah menghemat Rp25.000. Padahal kalau barangnya tidak dibutuhkan, Rp25.000 yang dibayarkan tetap pengeluaran tambahan. Uang itu sebenarnya bisa dipakai untuk keperluan lain. Jadi masalahnya bukan pada barang murah atau mahal, tapi pada apakah pembelian itu sesuai prioritas dan anggaran.
Diskon, Flash Sale, dan Ilusi Hemat
Promosi adalah hal yang paling menarik dalam dunia e-commerce. Diskon dan hedonic shopping berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian impulsif. Artinya, konsumen tidak hanya melihat harga, tapi juga mencari kesenangan dari berbelanja. Dampak promosi diskon di e-commerce pada Gen Z dan menemukan bahwa promosi membuat konsumen lebih mudah membeli sesuatu yang tidak direncanakan.
Karena itu, diskon belum tentu berarti hemat. Diskon baru disebut penghematan kalau kita memang sudah butuh barangnya dan mendapatkannya dengan harga lebih murah. Kalau diskon justru jadi alasan membeli barang yang tidak dibutuhkan, pengeluaran malah bertambah.
Mengapa Kita Sulit Menolak?
Selain faktor ekonomi, impulse buying berkaitan dengan cara kita bereaksi terhadap rangsangan. Platform digital menciptakan rasa mendesak lewat hitungan mundur flash sale, stok terbatas, notifikasi, rekomendasi personal, dan promo yang hanya berlaku sebentar. Tulisan seperti “tersisa 2 barang” atau “promo berakhir 10 menit lagi” kejadian ini membuat kita buru-buru untuk membeli tanpa berpikir panjang.
Pengalaman berbelanja juga memberi rasa senang. Kalau kita tertarik atau puas saat melihat-lihat produk, dorongan untuk membeli makin kuat. Jadi keputusan membeli tidak selalu didasari fungsi barangnya, tapi juga kepuasan emosional selama proses belanja.
Dampak terhadap Kondisi Keuangan
Kalau hanya sesekali dan masih dalam batas anggaran, impulse buying mungkin bukan masalah besar. Tapi kalau sering diulang, pembelian sedikit bisamenjadi banyak. Pengeluaran impulsif Rp20.000 per hari kelihatannya kecil, tapi dalam 30 hari totalnya Rp600.000, angka yang lumayan berarti bagi mahasiswa atau orang berpenghasilan terbatas.
Uang sebanyak itu bisa mengurangi dana untuk keperluan kuliah, transportasi, makan, atau tabungan. Apalagi pembayaran digital membuat transaksi terasa ringan karena kita tidak melihat uang fisik berpindah tangan. Karena itu, kemampuan mengendalikan impulse buying adalah bagian dari literasi keuangan.
Bagaimana Mengatasinya?
Mengendalikan impulse buying bukan berarti berhenti belanja, tapi membuat keputusan secara sadar. Cara simpelnya, terapkan aturan tunggu, tunda pembelian 24 jam untuk barang yang tidak mendesak. Kalau setelah itu barangnya masih terasa penting dan masuk anggaran, baru pertimbangkan lagi. Cara lain adalah membuat daftar kebutuhan dan batas pengeluaran, serta melihat promosi sebagai peluang berhemat, bukan alasan untuk membeli.
Sebelum checkout, coba tanya ke diri sendiri, apakah barang ini benar-benar dibutuhkan? Apakah sudah masuk anggaran? Apa yang harus dikorbankan kalau uang ini dipakai untuk membelinya? Dengan begitu, kita tetap bisa menikmati kemudahan ekonomi digital tanpa kehilangan kendali atas uang sendiri.
Kesimpulan
Impulse buying menunjukkan bahwa keputusan ekonomi manusia tidak selalu rasional. Di lingkungan digital, diskon, cashback, flash sale, dan pengalaman belanja yang menyenangkan mendorong pembelian spontan, dan sejumlah studi di Indonesia mengaitkannya dengan promosi, pengalaman belanja, dan hedonic shopping. Membeli di luar rencana tidak selalu salah, tetapi perlu dilihat frekuensi, nilai, dan dampaknya pada kebutuhan lain. Konsumsi yang sehat berarti mampu membedakan “ingin” dan “perlu” serta mempertimbangkan konsekuensi ekonominya.(*)
Penulis : Levista Queen Adinda (Mahasiswa Program Studi Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)








