Bursa Calon Ketua Umum POLOSORO Menghangat, Sejumlah Nama Muncul Jelang Musyda VIII

Ketua Polosoro Purworejo, Suwarto.

PURWOREJO, epurworejo.com – Musyawarah Daerah (Musyda) VIII Persatuan Kepala Desa dan Perangkat Desa (POLOSORO) Kabupaten Purworejo yang dijadwalkan berlangsung pada 23 Juli 2026 mulai memunculkan dinamika organisasi. Sejumlah nama kini diperbincangkan sebagai calon Ketua Umum POLOSORO periode 2026–2029 untuk menggantikan Suwarto yang telah memimpin organisasi tersebut selama dua periode berturut-turut.

Musyda yang mengusung tema “POLOSORO Kuat, Purworejo Hebat; Desa Bersatu, Indonesia Maju” itu akan menjadi forum evaluasi kepengurusan periode 2023–2026, penyusunan rekomendasi organisasi, sekaligus pemilihan kepengurusan baru. Sekitar 250 peserta dari 16 kecamatan diperkirakan hadir dalam agenda tersebut.

Sejumlah figur mulai disebut-sebut memiliki peluang memimpin organisasi yang mewadahi kepala desa dan perangkat desa di Kabupaten Purworejo tersebut. Salah satunya adalah Supriyono, Kepala Desa Pringgowijayan, Kecamatan Kutoarjo. Saat ini ia menjabat sebagai Ketua I POLOSORO Kabupaten Purworejo dan dinilai memiliki pengalaman organisasi yang cukup matang.

Selain Supriyono, nama Andhi Prasetiawan, Kepala Desa Trirejo, Kecamatan Loano, juga masuk dalam perbincangan. Sebagai Kepala Bidang Pembinaan Pemuda dan Olahraga POLOSORO, Andhi dikenal aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Ia juga menjadi salah satu figur yang mendapat sorotan setelah memimpin panitia turnamen bola voli yang digelar sebagai rangkaian kegiatan menuju Musyda VIII.

Dari kalangan perempuan, Juminatun yang akrab disapa Menik turut menjadi salah satu nama yang diperhitungkan. Kepala Desa Langenrejo, Kecamatan Butuh, tersebut saat ini menjabat Kepala Bidang Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak POLOSORO. Jika mendapat dukungan mayoritas anggota dan terpilih sebagai ketua umum, Menik berpeluang mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin POLOSORO Kabupaten Purworejo.

Sementara itu, Suwarto, Kepala Desa Jatimalang, Kecamatan Purwodadi, masih menjadi figur yang diperhitungkan dalam dinamika menjelang Musyda. Ketua Umum POLOSORO periode 2020–2023 dan 2023–2026 tersebut dinilai memiliki pengalaman, jejaring, serta pengaruh yang kuat di kalangan anggota organisasi.

Baca Juga :  Musrenbang Jangan Sekedar Jadi Rutinitas

Ketua Panitia Musyda VIII POLOSORO, Dwinanto, mengatakan munculnya sejumlah nama menjelang pelaksanaan Musyda merupakan hal yang wajar dalam kehidupan organisasi yang demokratis.

“Semakin banyak kader yang siap maju dan berkontribusi untuk organisasi tentu menjadi hal yang positif. Ini menunjukkan bahwa POLOSORO memiliki banyak sumber daya manusia yang berkualitas dan peduli terhadap kemajuan organisasi,” ujarnya, Rabu (24/6/2026).

Menurut Dwinanto, panitia akan menjaga netralitas selama seluruh tahapan Musyda berlangsung. Fokus panitia, kata dia, adalah memastikan seluruh proses berjalan sesuai mekanisme organisasi sehingga menghasilkan kepemimpinan yang sah, demokratis, dan mendapat dukungan luas dari anggota.

Ia menegaskan bahwa Musyda VIII bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan, melainkan momentum penting untuk memperkuat soliditas organisasi sekaligus merumuskan langkah-langkah strategis dalam memperjuangkan kepentingan desa di masa mendatang.

“Hasil Musyda diharapkan mampu memperkuat peran POLOSORO sebagai mitra strategis pemerintah dalam pembangunan desa serta menjaga kekompakan seluruh anggota,” katanya.

Hingga kini belum ada deklarasi resmi dari para figur yang namanya masuk dalam bursa calon Ketua Umum POLOSORO. Namun dengan waktu sekitar satu bulan menuju pelaksanaan Musyda VIII, komunikasi politik dan konsolidasi antaranggota diperkirakan akan semakin intensif.

Lebih dari sekadar menentukan pemimpin baru, anggota POLOSORO berharap Musyda VIII mampu melahirkan kepemimpinan yang dapat menjaga persatuan organisasi, memperkuat posisi desa dalam pembangunan daerah, serta meningkatkan kontribusi POLOSORO dalam mewujudkan visi “POLOSORO Kuat, Purworejo Hebat; Desa Bersatu, Indonesia Maju.” (*)