Debut di Porprov Jateng 2026, Paralayang Purworejo Langsung Raih Podium, Iqbal Satya Gumilang Ukir Sejarah

atlet paralayang yang menyumbangkan medali perunggu bersama pelatih dan official.

SEMARANG, epurworejo.com – Ketegangan demi ketegangan mewarnai perjuangan Iqbal Satya Gumilang dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026. Sebagai satu-satunya atlet yang mewakili Kabupaten Purworejo di cabang olahraga (cabor) paralayang, Iqbal harus berjuang melewati enam penerbangan yang penuh tantangan demi mengamankan tempat di podium.

Perjuangan itu akhirnya berbuah manis. Iqbal berhasil meraih podium ketiga pada nomor Ketepatan Mendarat (KTM) Kelas B Perorangan Putra, sekaligus mengukir catatan bersejarah bagi paralayang Purworejo yang untuk kali pertama mengikuti ajang olahraga empat tahunan tersebut.

Hasil ini menjadi kabar melegakan bagi tim paralayang Purworejo. Datang dengan kekuatan hanya satu atlet, mereka mampu membawa pulang hasil sesuai target.

Namun, perjalanan menuju podium bukan perkara mudah. Di balik ketenangan seorang atlet saat mengudara, ada kecemasan yang menyelimuti tim pendukung, terutama pelatih yang menanti setiap pendaratan di area landing.

Bagi mereka, setiap penerbangan terasa seperti senam jantung. Satu kesalahan kecil, perubahan cuaca, atau faktor alam yang sulit diprediksi bisa mengubah posisi atlet dalam persaingan.

“Latihan demi latihan panjang sudah dilalui, uji tanding melalui try out sudah dilakukan. Tidak hanya untuk menguji kemampuan atlet, tetapi juga membaca peta kekuatan lawan,” ujar Pelatih sekaligus Ketua Cabor Paralayang Purworejo, Rachman Hendy Hidhayat.

Menurut Hendy, paralayang merupakan olahraga dirgantara yang menuntut lebih dari sekadar keterampilan dan ketenangan. Atlet juga harus mampu menghadapi perubahan kondisi alam yang tidak selalu bisa diprediksi.

Berbeda dengan sepak bola yang memiliki babak gugur hingga final, persaingan dalam nomor ketepatan mendarat ditentukan oleh akumulasi hasil penerbangan sesuai ketentuan pertandingan.

Setiap atlet dijadwalkan menjalani enam penerbangan. Konsistensi menjadi kunci, sebab keunggulan pada satu penerbangan belum tentu mampu dipertahankan hingga akhir.

“Artinya, ketika atlet tidak konsisten menjaga capaian, posisi pertama pun bisa tergelincir dan kehilangan podium kalau semua faktor penentu itu tidak terpenuhi atau keberuntungan tidak berpihak,” jelas Hendy.

Dan itulah yang dialami Iqbal. Perjuangannya menjadi bagian dari drama perebutan podium yang berlangsung sejak hari pertama pertandingan, Minggu (25/10/2026), hingga babak final pada Rabu (28/10/2026).***

Awal Menjanjikan, Iqbal Langsung Bersaing di Papan Atas

Persaingan nomor KTM Kelas B Perorangan Putra berlangsung ketat. Setidaknya lima atlet mencuri perhatian karena saling mengejar posisi terbaik, yakni Iqbal dari Purworejo, Dwiko wakil Kabupaten Wonosobo, Damar wakil Kabupaten Batang, Yusril dari Kota Surakarta, dan Niki dari Kabupaten Semarang.

Pada penerbangan pertama, Iqbal langsung menunjukkan potensinya. Ia berhasil menginjak pad atau titik sasaran pendaratan dengan nilai 00, capaian terbaik dalam nomor ketepatan mendarat.

Dwiko juga memperoleh nilai 00. Sementara itu, Damar mencatatkan nilai 04, disusul Yusril dengan nilai 05 dan Niki yang4 juga memperoleh nilai 05. Hasil tersebut membuka peluang bagi Iqbal untuk bersaing di barisan terdepan.

Sebagai satu-satunya wakil Purworejo, ia menunjukkan bahwa keterbatasan jumlah atlet tidak serta-merta membatasi peluang untuk bersaing.
Namun, mempertahankan posisi ternyata jauh lebih sulit daripada membukanya.

Pada penerbangan kedua, Iqbal memperoleh nilai 07. Dwiko mencatatkan nilai 05, Damar 04, dan Niki 04. Sementara itu, Yusril juga memperoleh nilai 07.

Akumulasi nilai sementara menempatkan Dwiko di posisi teratas dengan total 05, disusul Iqbal dengan total 07. Yusril juga mengumpulkan nilai 07, sedangkan Damar dan Niki masing-masing mengantongi total 08 dan 09.

Persaingan masih terbuka lebar. Selisih nilai yang tipis membuat posisi para atlet belum aman.

Ketika pertandingan masih menyisakan empat penerbangan, cuaca berubah. Hujan turun dan memaksa panitia menutup jendela penerbangan atau close window.

Pertandingan pun dihentikan sementara dan dijadwalkan berlanjut keesokan harinya.

Bagi Iqbal dan para pesaingnya, jeda tersebut menjadi awal penantian berikutnya. Persaingan belum selesai, sementara peluang setiap atlet masih bisa berubah.

Sempat Terlempar ke Posisi Keempat
Senin (26/10/2026), pertandingan kembali dilanjutkan. Para atlet meneruskan perjuangan pada penerbangan ketiga dengan membawa hasil yang telah mereka kumpulkan sehari sebelumnya.

Kali ini, Iqbal menghadapi tantangan yang lebih berat. Ia memperoleh nilai 08 pada penerbangan ketiga sehingga total nilainya menjadi 15. Sebaliknya, Dwiko tampil lebih konsisten dengan tambahan nilai 01 dan total sementara 06.

Sementara Damar mencatatkan nilai 03 dengan total 11, sedangkan Yusril memperoleh nilai 02 sehingga totalnya menjadi 09. Niki mendapatkan nilai 07 dengan total 16. Hasil tersebut membuat posisi Iqbal merosot. Ia bahkan sempat tergeser oleh Damar dan berada di urutan keempat.

Bagi tim paralayang Purworejo, situasi ini tentu menghadirkan ketegangan tersendiri. Harapan untuk membawa pulang medali masih terbuka, tetapi Iqbal harus segera memperbaiki posisinya pada penerbangan berikutnya.

Kesempatan itu datang menjelang siang. Langit di kawasan Gunung Gajah Telomoyo, Desa Nogosaren, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, masih bersahabat untuk penerbangan. Panitia memutuskan melanjutkan pertandingan ke putaran keempat. Iqbal memanfaatkan kesempatan tersebut untuk kembali bersaing di papan atas.

Pada penerbangan keempat, ia memperoleh nilai 07 sehingga total nilainya menjadi 22. Meski belum mampu mengejar Dwiko yang masih memimpin dengan total 10, Iqbal kembali berada di urutan kedua dalam persaingan yang berlangsung saat itu.

Baca Juga :  Wabup Lepas Kontingen NPCI Ke Peparprov Jateng

Yusril mengalami kemunduran setelah mendapatkan tambahan nilai 200 sehingga totalnya melonjak menjadi 209. Sementara itu, Niki memperoleh nilai 22 dengan total 38.

Posisi Iqbal kembali membaik. Peluang meraih podium masih terjaga, meski dua penerbangan terakhir menyimpan tantangan yang tidak ringan.

Di sinilah konsistensi benar-benar diuji. Satu penerbangan bagus bisa mengangkat posisi, tetapi satu kesalahan juga berpotensi menghapus harapan yang telah dibangun sejak awal pertandingan.***

Penerbangan Kelima Menjadi Ujian Terberat

Selasa (27/10/2026), pertandingan memasuki penerbangan kelima setelah kawasan pertandingan diguyur hujan pada malam sebelumnya.

Ketegangan kembali meningkat. Para atlet semakin dekat dengan akhir kompetisi, tetapi belum ada jaminan bagi siapa pun untuk mengamankan tempat di podium.

Dwiko memperoleh nilai 09 sehingga totalnya menjadi 19. Yusril mencatatkan nilai 07 dengan total 216, sedangkan Niki mendapatkan nilai 03 dengan total 41. Damar memperoleh nilai 11 dengan total 122.

Sementara itu, Iqbal menghadapi pukulan yang cukup berat. Ia mendapatkan nilai fault (Volt) dengan tambahan nilai 200 sehingga totalnya menjadi 222.

Hasil tersebut membuat posisi Iqbal kembali merosot ke urutan keempat.
Peluang meraih medali kini berada dalam situasi genting. Iqbal harus berjuang pada penerbangan terakhir jika ingin menyelamatkan posisinya.

Hendy menjelaskan, dalam pertandingan tersebut berlaku ketentuan penghapusan satu nilai terburuk. Dengan aturan itu, persaingan menuju podium semakin sulit dipastikan hanya berdasarkan hasil satu penerbangan.

“Di penerbangan kelima ini, ada peraturan di mana dibuang nilai terjelek satu, sehingga nilai Damar sama dengan Iqbal dengan total nilai 222. Iqbal berada di urutan keempat karena Niki naik di urutan ketiga dengan total nilai 41,” terang Hendy.

Kini, hanya tersisa satu penerbangan. Bagi Iqbal, putaran terakhir bukan sekadar kesempatan memperbaiki peringkat, melainkan penentu apakah perjuangan panjangnya akan berakhir dengan sebuah medali.***

Nilai 00 di Penerbangan Terakhir Menjadi Penyelamat

Rabu (28/10/2026), babak final nomor KTM Junior Perorangan Putra akhirnya digelar. Inilah penerbangan keenam sekaligus kesempatan terakhir bagi para atlet untuk menentukan nasib mereka dalam kompetisi.

Bagi Iqbal, tidak ada pilihan selain tampil sebaik mungkin. Jika ingin mengamankan podium dan mencatatkan sejarah bagi paralayang Purworejo, ia harus mampu menghasilkan pendaratan yang sangat baik. Setiap sentimeter dari titik sasaran menjadi begitu berarti.

Di tengah tekanan pertandingan, Iqbal akhirnya mampu menjawab tantangan tersebut. Pada penerbangan terakhir, ia berhasil menginjak pad dengan nilai 00.
Sebuah capaian sempurna dalam nomor ketepatan mendarat yang membuka jalan bagi Iqbal untuk mengamankan posisi ketiga.

Dwiko, yang sebelumnya berada di posisi terdepan, memperoleh nilai 49 pada penerbangan keenam. Total nilainya menjadi 68 setelah penghapusan nilai terburuk.

Yusril mencatatkan nilai 03 dengan total 219, sedangkan Damar memperoleh nilai 02 dengan total 124. Niki mendapatkan nilai 05 dengan total 46.

Sementara itu, Iqbal menutup penerbangan terakhir dengan nilai 00 dan total nilai 22 setelah penghapusan nilai terburuk. Hasil akhir tersebut memastikan Iqbal masuk tiga besar.

Perjuangannya yang sempat terlempar ke posisi keempat akhirnya berbuah podium. Nilai 00 pada penerbangan terakhir menjadi salah satu penentu penting dalam upayanya mengamankan medali.

Di sisi lain, persaingan untuk merebut gelar juara pertama juga berlangsung dramatis. Dwiko dan Yusril tercatat memiliki nilai yang sama, yakni 19, sehingga keduanya harus menjalani head-to-head untuk menentukan juara pertama.

Pada babak penentuan tersebut, Dwiko memperoleh nilai 05, sedangkan Yusril mencatatkan nilai 113. Hasil itu mengantarkan Dwiko sebagai juara pertama dan Yusril sebagai juara kedua. Iqbal melengkapi podium di posisi ketiga.

Adapun Niki dan Damar mengakhiri persaingan dengan perolehan nilai yang sama di posisi keempat.***

Satu Atlet, Satu Podium, Sejarah Baru untuk Purworejo

Podium ketiga yang diraih Iqbal memiliki arti lebih dari sekadar medali.
Bagi paralayang Purworejo, hasil tersebut menjadi pijakan awal untuk mengembangkan olahraga dirgantara di daerah. Untuk pertama kalinya mengikuti Porprov Jawa Tengah, cabor ini hanya mengandalkan satu atlet, tetapi mampu menembus persaingan dan membawa pulang hasil sesuai target.

Perjalanan Iqbal juga menunjukkan bahwa prestasi dalam olahraga tidak selalu ditentukan oleh banyaknya atlet yang dikirim. Persiapan yang matang, latihan yang konsisten, kemampuan membaca persaingan, dan ketenangan menghadapi tekanan menjadi bagian penting dalam perjuangan menuju podium.

Meski demikian, paralayang tetap memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan olahraga lainnya. Faktor cuaca dan kondisi alam membuat setiap penerbangan menyimpan kemungkinan yang tidak selalu dapat diperkirakan.

Karena itu, keberhasilan Iqbal bukan hanya tentang keberanian mengudara, melainkan juga tentang kemampuan bertahan dalam persaingan yang terus berubah. Dari penerbangan pertama yang menjanjikan, sempat terlempar ke posisi keempat, hingga akhirnya bangkit pada putaran terakhir, Iqbal telah melewati perjalanan yang menguji mental dan konsistensinya.

Satu atlet berangkat membawa nama Purworejo. Empat hari persaingan menguji ketangguhannya. Dan satu pendaratan bernilai 00 pada penerbangan terakhir mengantarkannya ke podium Porprov Jateng 2026.

Bagi paralayang Purworejo, ini bukan akhir perjalanan. Justru dari podium pertama yang berhasil diraih dalam debut Porprov, sebuah harapan baru mulai tumbuh untuk melahirkan prestasi yang lebih tinggi pada masa mendatang.(*/tom)