Ombak Samudra Hindia di pantai selatan Purworejo bukan sekadar pemandangan bagi para nelayan. Di sana juga hidup sebuah adat turun-temurun. Di Desa Jatimalang, Kecamatan Purwodadi, adat itu dikenal sebagai Merti Jaladri, upacara rasa syukur kepada laut yang kini dipandang berpotensi menjadi pendorong wisata budaya sekaligus penguat ekonomi warga.
Arti Penting Merti Jaladri
Dalam bahasa Jawa, “merti” bermakna memelihara atau membersihkan, sementara “jaladri” berarti samudra. Dengan demikian, Merti Jaladri bisa dimaknai sebagai usaha menjaga laut sekaligus wujud terima kasih atas rezeki yang diperoleh. Bagi warga pesisir, laut lebih dari lahan mencari ikan; ia adalah sumber kehidupan yang patut dihormati. Itulah sebabnya tradisi ini memuat nilai kebersamaan, gotong royong, sikap rendah hati, dan kepedulian terhadap alam.
Seluruh warga biasanya ikut ambil bagian. Rangkaiannya mencakup doa bersama, kenduri, kirab, dan pelarungan sesaji berupa hasil bumi ke laut. Keramaian ini sekaligus mempertemukan nelayan, petani, pedagang, dan aparat desa.
Jatimalang: Desa Pantai yang Kaya Potensi
Jatimalang dianugerahi garis pantai panjang, hamparan pasir, dan pemandangan senja yang indah. Mayoritas penduduknya menggantungkan hidup pada penangkapan ikan, bertani, dan berdagang skala kecil. Perpaduan keindahan alam dan warisan budaya ini merupakan aset berharga. Pelancong zaman sekarang mencari pengalaman yang berkesan, bukan hanya lokasi swafoto, dan Merti Jaladri dapat menjawab kebutuhan tersebut.
Mengemas Ritual sebagai Daya Tarik Wisata
Mengembangkan wisata budaya bukan berarti menjadikan ritual sekadar pertunjukan. Yang terpenting adalah mempertahankan kesakralan inti upacara, sambil menyediakan rangkaian pendamping yang nyaman bagi pengunjung. Festival tahunan bisa disusun dengan jadwal terang, penjelasan tentang sejarah dan makna tradisi, penampilan seni setempat, serta perlombaan perahu atau permainan rakyat.
Jadwal tahunan yang tetap akan mempermudah promosi. Pemerintah desa, BUMDes, kelompok sadar wisata, dan instansi terkait dapat bekerja sama menyebarkan informasi acara lewat media sosial. Foto dan video yang menarik akan membawa kabar ini hingga ke luar daerah.
Menghidupkan Perekonomian Warga
Ramainya pengunjung membuka beragam kesempatan usaha. Penjual makanan dapat menawarkan hidangan laut seperti ikan bakar, olahan udang, dan jajanan khas pantai. Perajin bisa memasarkan buah tangan dari bahan setempat. Pemilik rumah yang layak dapat membuka penginapan rumahan, sedangkan anak muda dapat bekerja sebagai pemandu, juru parkir, atau pembuat dokumentasi.
Manfaat paling besar terasa jika uang yang beredar tetap berputar di desa. Maka warga perlu menjadi pelaku utama, bukan hanya penonton. Pelatihan mengemas produk, mengelola keuangan usaha kecil, dan melayani wisatawan akan menaikkan mutu serta daya saing usaha mereka. Nelayan pun dapat menyusun paket wisata edukasi, misalnya memperkenalkan keseharian melaut dan pengolahan hasil tangkapan.
Hambatan yang Harus Diwaspadai
Setiap pengembangan wisata mengandung risiko. Kunjungan yang membeludak dapat menimbulkan timbunan sampah, kemacetan, dan komersialisasi berlebihan yang menggerus makna tradisi. Karena itu dibutuhkan kesepakatan bersama soal kebersihan, batas kawasan sakral, dan tata krama pengunjung. Pemerataan manfaat juga harus dijaga agar tidak hanya dirasakan segelintir pihak. Terakhir, pewarisan kepada generasi muda perlu diperhatikan supaya tradisi tetap lestari dan dimengerti maknanya.
Merawat Tradisi, Memupuk Kesejahteraan
Merti Jaladri membuktikan bahwa budaya dan ekonomi tidak harus bertentangan. Jika tradisi dijaga dengan sungguh-sungguh, ia bisa menjadi jati diri desa sekaligus sumber penghasilan. Kuncinya adalah kerja sama: warga sebagai pemilik tradisi, pemerintah sebagai pendamping, dan pelaku usaha serta akademisi sebagai mitra penguat.
Dengan rencana yang matang, Jatimalang berpeluang menjadi teladan desa pantai yang berkembang tanpa kehilangan identitasnya. Laut yang selama ini dijaga lewat doa dan kebersamaan pada akhirnya akan memberi balasan berupa kesejahteraan yang berkelanjutan bagi warganya.(*)
Penulis : Gisela Adhisthana Hita Amara (Mahasiswa Program Studi Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta )








