PURWOREJO, epurworejo.com — Mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, sejarah perjuangan Muhammadiyah, dan perkembangan ilmu pengetahuan menjadi langkah penting dalam membangun generasi muda yang berkemajuan. Semangat itulah yang diwujudkan Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan bersama SMP Muhammadiyah Jono Bayan, Purworejo, melalui kegiatan Jejak Ilmu 2026: Studi Kemuhammadiyahan Kauman dan Praktikum Sains Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Rabu (4/11/2026).
Mengusung tema “Meneladani Perjuangan KH Ahmad Dahlan, Mengeksplorasi Sains Teknologi, Membangun Generasi Berkemajuan”, kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran luar kelas atau outing class yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada para santri. Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan melalui pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga diajak mengamati, mengeksplorasi, mempraktikkan, dan mengambil pelajaran dari lingkungan di sekitarnya.
Kegiatan yang diikuti santri kelas VII, VIII, dan IX SMP Muhammadiyah Jono yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Darul Arqom tersebut didampingi oleh para ustaz, ustazah, serta guru pendamping. Rangkaian kegiatan dipusatkan di dua lokasi edukatif, yakni Laboratorium Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta serta Kampung Kauman, Yogyakarta, yang dikenal sebagai tempat lahirnya Persyarikatan Muhammadiyah.
Melalui kegiatan ini, para santri diajak memahami bahwa pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada penguatan ilmu agama, tetapi juga harus mampu mendorong penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Direktur Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan, Dr. (CAND) Muhammad Nurrosyid Huda Setiawan, S.Th.I., MIRKH, menyampaikan bahwa Jejak Ilmu merupakan bagian dari ikhtiar pendidikan pesantren dalam memperluas wawasan dan pengalaman belajar santri.
“Agenda ini merupakan bagian pendidikan yang ada di Pondok Pesantren Darul Arqom dan SMP Muhammadiyah Jono. Besar harapan kami, melalui program Studi Kemuhammadiyahan dan Praktikum Sains ini, para santri dapat membuka wawasan, khususnya dalam meneladani jejak langkah perjuangan pendiri Muhammadiyah sekaligus memiliki angan yang tinggi untuk masa depan mereka, terutama dalam dunia sains,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa pesantren memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya kuat dalam pemahaman keagamaan, tetapi juga memiliki kapasitas intelektual dan kemampuan menghadapi tantangan masa depan.
Semangat tersebut sejalan dengan cita-cita pendidikan Muhammadiyah, yakni melahirkan sosok ulama yang intelek dan intelek yang ulama. Dengan demikian, penguasaan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum tidak ditempatkan sebagai dua hal yang saling bertentangan, melainkan sebagai kekuatan yang saling melengkapi.
Eksplorasi Sains di Laboratorium Pendidikan Fisika UAD
Rangkaian Jejak Ilmu 2026 diawali dengan kegiatan eksplorasi sains di Laboratorium Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, tepatnya di Laboratorium Fisika lantai 5 Gedung Kampus 4 UAD.
Kehadiran para santri di lingkungan perguruan tinggi tersebut menjadi pengalaman tersendiri. Mereka berkesempatan mengenal lebih dekat dunia akademik, menyaksikan berbagai perangkat laboratorium, serta mempelajari penerapan konsep-konsep fisika melalui kegiatan pengamatan dan praktik secara langsung.
Kegiatan eksplorasi diawali dengan pengenalan lingkungan laboratorium dan penjelasan mengenai berbagai alat peraga serta perangkat praktikum. Para santri mendapatkan pendampingan dari Ketua Program Studi Pendidikan Fisika, kepala laboran, dan mahasiswa asisten yang membantu menjelaskan fungsi serta prinsip kerja sejumlah peralatan.
Tidak sekadar menyaksikan demonstrasi, para santri juga dilibatkan dalam berbagai aktivitas pembelajaran interaktif melalui program fun physics atau permainan ilmiah. Metode ini dirancang agar konsep fisika yang selama ini dipelajari secara teoretis di kelas dapat dipahami melalui pengalaman yang lebih konkret, menyenangkan, dan mudah diingat.
Dalam sesi praktikum, peserta diperkenalkan pada berbagai fenomena fisika yang berkaitan dengan cahaya, optik, gelombang, listrik dinamis, gerak, gaya, dan konsep-konsep lainnya. Melalui kegiatan tersebut, santri didorong untuk mengamati fenomena, mengajukan pertanyaan, mencoba alat, serta memahami hubungan antara teori dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Suasana laboratorium pun menjadi ruang belajar yang dinamis. Rasa ingin tahu santri terlihat ketika mereka berinteraksi dengan peralatan praktikum, memperhatikan penjelasan pendamping, dan mengikuti percobaan yang diberikan.
Pengalaman ini sekaligus menjadi sarana untuk mengembangkan keterampilan ilmiah, seperti kemampuan melakukan pengamatan, mengidentifikasi permasalahan, berpikir kritis, serta menarik kesimpulan berdasarkan hasil percobaan.
Ketua Program Studi Pendidikan Fisika UAD Yogyakarta, Eko Nursulistiyo, M.Pd., menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia berharap pengalaman belajar di laboratorium dapat meningkatkan ketertarikan peserta didik terhadap ilmu fisika.
“Saya berharap program Jejak Ilmu PPDA 2026 yang dilaksanakan di Laboratorium Pendidikan Fisika UAD itu membuat siswa-siswi makin senang belajar fisika. Tadi masih ingin belajar dan masih ingin mencoba alat-alat yang lainnya lagi,” tuturnya.
Menurut Eko, kegiatan pembelajaran semacam ini perlu terus dikembangkan agar peserta didik mendapatkan kesempatan lebih luas untuk mengenal sains melalui praktik langsung. Ia juga menekankan pentingnya membangun pemahaman bahwa ilmu agama dan ilmu pengetahuan merupakan dua bidang yang dapat saling mendukung.
“Ke depan, kami berharap banyak aktivitas semacam itu. Tidak hanya agamanya yang bagus, tetapi juga dari sisi keilmuannya bagus. Ilmu dan agama ini sebenarnya tidak terpisahkan, keduanya saling bersinergi,” jelasnya.
Ia juga membuka peluang agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan kembali pada masa mendatang. Menurutnya, masih banyak fasilitas, peralatan, dan aktivitas pembelajaran di lingkungan Program Studi Pendidikan Fisika UAD yang dapat dieksplorasi oleh para santri.
Harapan tersebut menjadi dorongan positif bagi pengembangan pembelajaran kolaboratif antara lembaga pendidikan pesantren dan perguruan tinggi.
Kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan kunjungan laboratorium, tetapi dapat berkembang menjadi program pendidikan berkelanjutan yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
Melalui kerja sama tersebut, peserta didik diharapkan memperoleh akses pengalaman belajar yang lebih luas, terutama dalam mengenal laboratorium, mempraktikkan konsep sains, serta memahami perkembangan teknologi melalui pendekatan pembelajaran kontekstual.
Bagi Pondok Pesantren Darul Arqom, kerja sama dengan perguruan tinggi merupakan bagian dari upaya memperkuat kualitas pendidikan dan memperluas jejaring akademik. Sementara itu, bagi Program Studi Pendidikan Fisika UAD, kolaborasi ini menjadi ruang untuk memperkenalkan pembelajaran fisika kepada peserta didik sejak jenjang sekolah menengah pertama.
Rangkaian kegiatan di Kampus 4 UAD kemudian ditutup dengan sesi dokumentasi dan foto bersama sebagai penanda terjalinnya kolaborasi pendidikan sekaligus kenangan atas pengalaman belajar yang diperoleh para santri.
Menelusuri Jejak Sejarah Muhammadiyah di Kampung Kauman
Setelah menyelesaikan eksplorasi sains di lingkungan UAD, rombongan melanjutkan kegiatan menuju Kampung Kauman, Yogyakarta. Jika laboratorium menjadi ruang untuk mengenal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, Kauman menjadi ruang pembelajaran sejarah untuk memahami akar perjuangan dan pemikiran Muhammadiyah.
Kampung Kauman memiliki kedudukan istimewa dalam perjalanan sejarah Islam dan gerakan pembaruan pendidikan di Indonesia. Di kampung inilah KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912. Dari lingkungan sederhana tersebut, lahir sebuah gerakan Islam yang kemudian berkembang luas dan memberikan kontribusi besar dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, serta pemberdayaan masyarakat.
Bagi para santri yang berada di lingkungan pendidikan Muhammadiyah, kunjungan ke Kauman bukan sekadar perjalanan wisata sejarah. Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk menyaksikan secara langsung tempat-tempat yang memiliki keterkaitan dengan perjuangan tokoh pendiri persyarikatan.
Dengan menyusuri kawasan tersebut, peserta diajak mengenal berbagai situs bersejarah, memahami dinamika dakwah pada masa awal berdirinya Muhammadiyah, serta mempelajari nilai-nilai perjuangan yang diwariskan oleh KH Ahmad Dahlan.
Perjalanan sejarah Muhammadiyah di Yogyakarta juga tidak dapat dilepaskan dari keberadaan tiga kawasan penting yang dikenal dengan sebutan “Tiga K”, yaitu Kauman, Karangkajen, dan Kotagede. Ketiganya menjadi bagian penting dari dinamika perkembangan Muhammadiyah sebelum gerakannya meluas ke berbagai wilayah di Indonesia, bahkan menjangkau dunia internasional.
Kauman sendiri merupakan kawasan yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan keagamaan masyarakat Yogyakarta. Sejak awal, kawasan ini menjadi tempat tumbuhnya aktivitas keislaman sekaligus pusat lahirnya gagasan pembaruan yang kemudian diwujudkan melalui gerakan Muhammadiyah.
KH Ahmad Dahlan mengembangkan dakwah yang tidak hanya menekankan pengajaran agama secara tekstual, tetapi juga mendorong umat Islam untuk melakukan perubahan sosial melalui pendidikan, pelayanan masyarakat, dan penguatan kehidupan ekonomi.
Salah satu pembaruan penting yang dilakukan adalah pengembangan sistem pendidikan Islam. Muhammadiyah memadukan pendidikan agama dengan ilmu pengetahuan umum serta mengadopsi sejumlah pendekatan pendidikan modern yang berkembang pada masa itu. Langkah tersebut menjadi terobosan penting dalam memperluas akses pendidikan bagi masyarakat.
Melalui pendidikan, KH Ahmad Dahlan berupaya membangun umat Islam yang memiliki pemahaman agama kuat sekaligus mampu menjawab persoalan kehidupan. Semangat pembaruan atau tajdid tersebut menjadi salah satu karakter penting Muhammadiyah hingga saat ini.
Selain pendidikan, perkembangan kegiatan sosial dan ekonomi juga menjadi bagian dari dinamika masyarakat Kauman. Aktivitas perdagangan, termasuk industri batik dan tekstil, turut mewarnai kehidupan masyarakat di kawasan tersebut.
Dalam perjalanan organisasi, Kauman juga melahirkan sejumlah tokoh penting yang pernah memimpin Muhammadiyah, di antaranya KH Ibrahim, Ki Bagus Hadikusumo, KH Ahmad Badawi, KH M. Yunus Anis, dan KH Ahmad Azhar Basyir.
Sementara itu, dari kalangan perempuan, sejumlah tokoh Kauman turut memberikan kontribusi besar dalam perkembangan ‘Aisyiyah, seperti Siti Bariyah, Siti Munjiyah, Siti Hayinah, Siti Badilah, Siti Aisyah Hilal, Prof. Siti Baroroh Baried, dan Prof. Siti Chamamah Soeratno.
Kiprah para tokoh tersebut menunjukkan bahwa perkembangan Muhammadiyah tidak hanya dibangun oleh satu generasi, melainkan melalui perjuangan panjang yang melibatkan banyak tokoh, baik laki-laki maupun perempuan.
Tidak mengherankan apabila sejarah Muhammadiyah di Yogyakarta memiliki arti penting bagi perkembangan masyarakat dan kebangsaan. Muhammadiyah turut memberikan kontribusi dalam membangun tradisi pendidikan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Dalam konteks keistimewaan Yogyakarta, Muhammadiyah juga dikenal sebagai salah satu kekuatan sosial yang memiliki kontribusi historis dalam perkembangan daerah. Nilai-nilai perjuangan tersebut menjadi bagian penting dari pembelajaran yang ingin ditanamkan kepada para santri melalui kunjungan ke Kauman.
Bagi peserta, pengalaman menyusuri kawasan bersejarah ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa keberadaan lembaga pendidikan Muhammadiyah saat ini merupakan hasil perjuangan panjang para pendahulu.
Dengan demikian, generasi muda tidak hanya menjadi penerima manfaat pendidikan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan melalui prestasi, pengabdian, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Menyiapkan Kader Unggul dan Berkemajuan
Kepala SMP Muhammadiyah Jono Bayan Purworejo, Erlinda Windiastranti, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan Jejak Ilmu 2026 merupakan bagian dari pembelajaran luar kelas yang mengintegrasikan aspek sains, teknologi, dan pendidikan Kemuhammadiyahan.
Menurutnya, kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih luas kepada peserta didik melalui kunjungan langsung ke tempat-tempat yang memiliki nilai edukatif.
Ia menjelaskan bahwa terdapat tiga harapan utama dari pelaksanaan kegiatan tersebut. Pertama, memantik minat belajar peserta didik terhadap sains dan teknologi melalui pengalaman praktik secara langsung di laboratorium. Kedua, mengenalkan sejarah perjuangan KH Ahmad Dahlan dengan mengunjungi lokasi-lokasi bersejarah Muhammadiyah. Ketiga, membangun tujuan jangka panjang berupa kaderisasi generasi yang unggul dan memiliki loyalitas terhadap persyarikatan.
“Kegiatan outing class ini berkaitan dengan tema sains dan pendidikan Kemuhammadiyahan. Anak-anak akan mengunjungi Laboratorium Fisika UAD, menelusuri jejak sejarah KH Ahmad Dahlan, serta mendapatkan pengalaman edukatif melalui kegiatan kunjungan lainnya,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa seluruh rangkaian kegiatan didampingi langsung oleh guru dan tenaga pendidik. Sebelum keberangkatan, panitia juga telah menyiapkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) sebagai panduan observasi dan penyusunan laporan kegiatan.
Dengan adanya LKPD tersebut, peserta didik diharapkan tidak hanya menikmati perjalanan, tetapi juga mampu mencatat informasi, mengidentifikasi pengetahuan baru, dan menyusun hasil pengamatan secara sistematis.
Erlinda berharap kegiatan ini dapat memberikan pengalaman bermakna sekaligus memperkuat karakter peserta didik sebagai generasi yang memiliki semangat belajar, kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, dan komitmen terhadap nilai-nilai Kemuhammadiyahan.
Ia juga berharap seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Darul Arqom senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, dan kelancaran dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga kembali ke tempat masing-masing.
Belajar, Berpetualang, dan Memperluas Pengalaman
Sebagai penutup rangkaian Jejak Ilmu 2026, rombongan melanjutkan perjalanan menuju IBARBO Park yang berada di kawasan Jalan Magelang–Yogyakarta. Kunjungan ini menjadi bagian dari aktivitas penyegaran setelah para santri mengikuti kegiatan edukatif di laboratorium dan kawasan bersejarah Kauman.
Di tempat tersebut, santri bersama para ustaz, ustazah, dan guru pendamping menikmati berbagai wahana rekreasi serta mengenal beragam jenis satwa yang berada di kawasan aviari.
Para peserta juga berkesempatan menikmati wahana permainan dan berbagai fasilitas hiburan yang tersedia. Suasana kebersamaan menjadi bagian penting dalam agenda penutup ini.
Kegiatan rekreatif tersebut memberikan ruang bagi santri untuk melepas penat, membangun kedekatan dengan teman-teman, serta mempererat hubungan antara peserta didik dan para pendamping.
Kehadiran unsur rekreasi dalam kegiatan pembelajaran juga menjadi pengingat bahwa pendidikan dapat berlangsung melalui berbagai pengalaman. Belajar tidak selalu harus dilakukan dengan duduk di ruang kelas, tetapi dapat diperoleh melalui pengamatan lingkungan, interaksi sosial, praktik langsung, dan pengalaman bersama.
Jejak Ilmu, Melanjutkan Tradisi Pembelajaran Berkemajuan
Ketua Panitia Jejak Ilmu 2026, Akhmad Maulidin Musdani, menjelaskan bahwa kegiatan Studi Kemuhammadiyahan di Kauman merupakan pelaksanaan kedua setelah sebelumnya diselenggarakan pada 2024.
Pada pelaksanaan pertama, kegiatan studi Kemuhammadiyahan dipadukan dengan studi budaya melalui eksplorasi Museum Sonobudoyo. Sementara itu, pada 2026, konsep kegiatan dikembangkan dengan menghadirkan eksplorasi sains bersama Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Ahmad Dahlan.
Menurutnya, pengembangan konsep tersebut merupakan upaya menghadirkan pengalaman belajar yang lebih beragam dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.
“Program Studi Kemuhammadiyahan di Kauman Yogyakarta ini telah dilaksanakan untuk kedua kalinya. Jika pada 2024 kegiatan disandingkan dengan studi budaya melalui eksplorasi Museum Sonobudoyo, tahun ini kami mengembangkan kegiatan dengan belajar sains bersama Program Studi Pendidikan Fisika UAD Yogyakarta,” ungkap Akhmad.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi agenda pembelajaran yang terus berkembang sehingga santri memperoleh kesempatan untuk mengenal lebih banyak bidang keilmuan, tokoh, dan lingkungan pendidikan.
Jejak Ilmu 2026 pada akhirnya bukan sekadar perjalanan dari Purworejo menuju Yogyakarta. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan perjalanan intelektual dan spiritual untuk menghubungkan nilai-nilai perjuangan masa lalu dengan tantangan masa depan.
Dari Kauman, para santri belajar tentang keteladanan KH Ahmad Dahlan, semangat pembaruan, dan perjuangan membangun pendidikan umat. Dari laboratorium UAD, mereka memperoleh pengalaman bahwa sains dan teknologi dapat dipelajari melalui rasa ingin tahu, keberanian mencoba, serta kesungguhan melakukan pengamatan.
Kedua pengalaman tersebut menjadi satu kesatuan pembelajaran yang saling menguatkan. Nilai keimanan memberikan arah bagi pengembangan ilmu pengetahuan, sementara ilmu pengetahuan membuka ruang bagi manusia untuk memahami kebesaran Allah Swt. melalui berbagai fenomena kehidupan dan alam semesta.
Semangat inilah yang menjadi landasan penting bagi Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan dan SMP Muhammadiyah Jono dalam membangun pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter, penguatan keislaman, dan kaderisasi persyarikatan.
Melalui Jejak Ilmu 2026, para santri diharapkan tumbuh menjadi generasi yang tidak berhenti belajar, berani bermimpi, mampu menguasai perkembangan teknologi, serta memiliki kepedulian terhadap umat dan bangsa.
Sebab, meneladani perjuangan para pendahulu tidak cukup hanya dengan mengenang sejarah. Perjuangan itu harus dilanjutkan melalui karya, prestasi, penguasaan ilmu pengetahuan, dan pengabdian nyata bagi kehidupan.(*)








