Viralitas Dawet Melani Tak Goyahkan Dawet Jembut Kecabut Butuh

PURWOREJO, epurworejo.com – Viral di media sosial belum tentu membuat semua orang berpaling. Buktinya, popularitas Dawet Ireng Melani yang belakangan ramai diperbincangkan ternyata tak membuat Dawet Ireng Butuh kehilangan penggemarnya.

Dawet legendaris yang dikenal dengan sebutan Dawet Jembut Kecabut atau Dawet Jembatan Butuh, Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo, itu masih punya pelanggan setia. Bahkan, pembelinya terpantau terus berdatangan atau dalam istilah Jawa disebut mbanyu mili.

Menariknya, kedua penjual dawet ini menawarkan jenis minuman yang sama dengan konsep dagangan yang tak jauh berbeda. Hanya saja, Dawet Melani yang berada di kawasan Batoh, jalur Purworejo-Kutoarjo, tampil dengan kemasan penjual yang mencuri perhatian karena parasnya yang cantik.

Sementara itu, Dawet Butuh tetap tampil dengan kesederhanaannya. Para penjualnya merupakan orang-orang biasa, bahkan laki-laki. Namun, soal rasa dan pelanggan, mereka tampaknya tak perlu terlalu khawatir.

Salah satu penikmat Dawet Butuh, Sunarto, warga Semarang, mengaku sengaja mampir saat melintasi wilayah tersebut dalam perjalanan menjalankan tugas ke Kabupaten Kebumen, Minggu (8/11/2026).

Baca Juga :  Peringatan Hari Lahir Pancasila, Bupati Yuli Hastuti Sampaikan Pesan Perangi Hoaks dan Provokasi

Ia mengaku sempat ditawari untuk mampir ke Dawet Melani yang sedang viral. Namun, pilihannya justru jatuh pada dawet legendaris di kawasan Butuh.

“Saya memilih ke dawet ireng ini karena memang pengen mencoba. Tadi juga ditawari ke Melani yang sedang viral itu, tapi kok ya ndak kepengen. Pengennya ke sini,” tutur Sunarto.

Pantauan epurworejo.com, Minggu (8/11/2026), aktivitas pembeli di kawasan Dawet Butuh terlihat cukup ramai. Pembeli datang silih berganti untuk menikmati segarnya dawet ireng khas daerah tersebut.

Sebaliknya, di kawasan Batoh tempat Dawet Melani berjualan, sejumlah lapak dawet yang berjajar tampak relatif lebih lengang saat pengamatan berlangsung.

Fenomena ini seolah menjadi pengingat bahwa viralitas memang bisa mendatangkan rasa penasaran. Namun, urusan lidah dan pilihan pelanggan ternyata punya cerita sendiri.

Sebab, dalam persaingan jualan dawet, yang bening belum tentu paling dicari. Yang legendaris pun belum tentu kehilangan penggemar hanya karena pesaingnya sedang viral. (*)