11 Tahun Komangjo Foundation, Tantangan Regenerasi Jadi Alarm untuk Gaet Gen Z Peduli Lingkungan

PURWOREJO, epurworejo.com – Memasuki usia ke-11, Komangjo Foundation mulai menata ulang strategi gerakan lingkungan yang selama ini dijalankan. Regenerasi relawan menjadi salah satu pekerjaan rumah utama, menyusul semakin sulitnya mencari anak muda yang bersedia terlibat secara konsisten dalam kegiatan konservasi dan pemberdayaan masyarakat.

Direktur Komangjo Foundation, Sapto Pamungkas, mengatakan perjalanan selama 11 tahun menjadi momentum untuk melakukan refleksi. Di satu sisi, organisasi terus bertambah usia dan telah menjalankan berbagai program. Namun di sisi lain, keberlanjutan gerakan membutuhkan hadirnya generasi baru yang siap melanjutkan estafet.

“Sebelas tahun berkarya tentu menjadi bahan renungan bagi kami. Usia semakin tua, sementara sekarang untuk mencari volunteer sebagai bagian dari regenerasi juga tidak mudah,” kata Sapto, disela kegiatan resepsi peringatan Harlah Komangjo ke-11 yang digelar di Rumah Mangrove, Pangen Jurutengah, Kecamatan/ Kabupaten Purworejo, Minggu (6/9/2026).

Menurut pria yang akrab di sapa Sapto Mangrove ini, selama lebih dari satu dekade Komangjo Foundation konsisten menjalankan tiga core atau kegiatan pokok.

Pertama, Mangrove Institut yang memiliki bidang garap utama pada ekosistem mangrove. Program tersebut tidak sebatas pada kegiatan penanaman, tetapi juga diarahkan pada edukasi, pelestarian dan pengelolaan ekosistem mangrove dengan melibatkan masyarakat.

Kedua, program penyadartahuan ular melalui Belajar untuk Berkawan Ular (BELUKAR). Program ini menjadi sarana edukasi kepada masyarakat untuk mengenal keberadaan ular dan perannya dalam ekosistem, sekaligus membangun cara pandang yang lebih tepat ketika berinteraksi dengan satwa tersebut.

Sedangkan core ketiga adalah pengembangan wisata minat khusus berbasis desa yang dijalankan dengan bendera Bogowonto Indonesia Adventure (BIA). Program tersebut memanfaatkan potensi alam dan karakter desa sebagai bagian dari kegiatan wisata, edukasi dan pemberdayaan masyarakat.

“Tiga core itu yang selama ini menjadi bidang garap kami. Mangrove Institute bergerak pada ekosistem mangrove, Belukar pada penyadartahuan ular, dan BIA pada wisata minat khusus berbasis desa,” jelasnya.

Sapto mengungkapkan, persoalan regenerasi tidak ingin hanya disikapi dengan keluhan mengenai semakin sulitnya mencari volunteer. Kondisi tersebut justru menjadi bahan evaluasi bagi Komangjo Foundation untuk melihat kembali pola gerakan yang selama ini dilakukan.

Baca Juga :  Sukseskan Pilkada Serentak 2024, Panwascam Kemiri Kawal Rekam E-KTP Pemilih Pemula

Menurutnya, organisasi lingkungan juga harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Cara menyampaikan isu konservasi kepada generasi muda tidak bisa selalu menggunakan pendekatan lama.

Keresahan tersebut kemudian mendorong Komangjo Foundation menata kembali pola gerakannya agar persoalan mangrove, pesisir, satwa dan lingkungan hidup bisa dikemas menjadi isu yang dekat serta menarik bagi Gen Z.

“Kami harus menata gerakan lagi. Tantangannya bagaimana isu-isu lingkungan ini bisa menarik minat Gen Z. Kalau ingin gerakan ini terus hidup, maka harus ada ruang bagi generasi muda untuk masuk, belajar dan kemudian mengambil peran,” ungkap Sapto.

Salah satu langkah yang tengah dipersiapkan adalah menggelar Sekolah Pesisir dalam waktu dekat. Program tersebut akan melibatkan delegasi dari berbagai sekolah, organisasi kepemudaan hingga kelompok masyarakat.

Sekolah Pesisir nantinya tidak hanya menjadi ruang penyampaian materi mengenai lingkungan. Komangjo Foundation ingin peserta mendapatkan pengalaman langsung, mengenal persoalan pesisir serta memahami pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga ekosistem.

Melalui program tersebut, Komangjo Foundation berharap muncul anak-anak muda yang tidak berhenti sebagai peserta kegiatan, tetapi tertarik bergabung menjadi volunteer dan terlibat dalam gerakan lingkungan secara berkelanjutan.

“Harapannya dari Sekolah Pesisir nanti lahir volunteer-volunteer baru. Mereka inilah yang kemudian bisa menjadi bagian dari regenerasi dan meneruskan gerakan ke depan,” ujarnya.

Bagi Sapto, regenerasi menjadi penting karena persoalan lingkungan tidak selesai dalam satu atau dua kegiatan. Konservasi membutuhkan proses panjang dan keterlibatan lintas generasi.

Karena itu, memasuki tahun ke-11, Komangjo Foundation ingin menjadikan regenerasi sebagai bagian penting dari arah gerakan berikutnya. Anak muda tidak hanya ditempatkan sebagai sasaran kampanye lingkungan, tetapi didorong menjadi pelaku yang mempunyai ruang untuk merancang dan menjalankan gerakan.

“Yang kami inginkan bukan sekadar mengajak anak muda datang dalam sebuah kegiatan. Lebih jauh, bagaimana mereka kemudian merasa memiliki gerakan ini dan bersedia melanjutkannya,” pungkas Sapto.(*)