PURWOREJO, epurworejo.com – Peningkatan kualitas kopi dinilai harus dimulai dari hulu, terutama melalui perawatan tanaman, pemetikan buah hingga penanganan pascapanen. Dengan kualitas biji yang baik, harga jual kopi diharapkan ikut meningkat dan mampu memberikan nilai tambah bagi petani.
Hal tersebut disampaikan anggota Komisi III DPRD Kabupaten Purworejo Sumitro saat menghadiri kegiatan yang digelar Dinas Perindustrian, Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Dinperintransnaker) Kabupaten Purworejo di Omah Kopi Gua Seplawan, Kecamatan Kaligesing.
Sumitro hadir bersama anggota Komisi III DPRD Purworejo lainnya, Endang Tavip Handayani. Kegiatan tersebut dikemas dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Barista Kopi.
Menurut Sumitro, meski kegiatan bertajuk bimtek barista, peserta yang hadir ternyata banyak berasal dari kalangan petani kopi. Kondisi tersebut justru membuat pembahasan mengenai kualitas kopi dari tingkat produksi menjadi penting.
“Untuk pengembangan kopi yang bagus dan diminati konsumen memang berawal dari hulu, dari perawatan pohon kopi itu sendiri, juga pemetikan panen dan perlakuan pascapanen,” kata Sumitro, Kamis (10/9/2026).
Ia menjelaskan, proses pemetikan kopi perlu dilakukan dengan memperhatikan tingkat kematangan buah. Pemilihan buah yang tepat akan berpengaruh terhadap kualitas biji kopi yang dihasilkan.
Salah satu yang ditekankan yakni pemetikan buah kopi merah serta proses penyortiran dengan cara merendam atau merambang buah. Buah yang mengapung dipisahkan karena dinilai memiliki kualitas yang kurang baik.
“Yang mengapung dibuang. Kemudian panen raya itu petik merah semua. Setelah itu pada tahap berikutnya yang merah maupun hijau dipetik semua,” jelasnya.
Menurutnya, pemetikan pada tahap akhir juga memiliki tujuan menjaga kondisi tanaman agar dapat kembali tumbuh dan berbunga dengan baik pada periode berikutnya.
“Kenapa harus dipetik semua? Karena untuk pohon itu biar nanti di bunga berikutnya bagus,” ujarnya.
Sumitro berharap para petani kopi di wilayah Kaligesing maupun Purworejo dapat semakin memperhatikan tata cara budidaya dan pemanenan yang benar. Dengan perlakuan yang baik, kualitas biji kopi diharapkan meningkat sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
“Harapannya petani bisa memelihara atau merawat pohonnya sebaik mungkin sehingga menghasilkan biji kopi pilihan dan panennya juga sesuai,” ungkapnya.
Ia menilai kualitas bahan baku dari tingkat petani akan sangat menentukan cita rasa kopi yang dihasilkan. Karena itu, peningkatan kualitas tidak cukup hanya dilakukan pada tahap penyajian, tetapi harus dimulai sejak tanaman dirawat hingga biji kopi siap diolah.
“Dengan hasil panen yang bagus, biji kopi yang petik merah itu nanti harganya juga bagus. Dari cita rasa kopi itu sendiri juga nikmat,” katanya.
Sumitro juga mengakui kegiatan tersebut sedikit berbeda dari ekspektasinya. Ia semula membayangkan peserta bimtek lebih banyak berasal dari calon barista atau pelaku usaha kedai kopi yang dapat diarahkan pada pengembangan bisnis dan penyerapan tenaga kerja.
Namun, melihat banyaknya peserta dari kalangan petani, ia berharap materi yang diberikan tetap dapat memberikan manfaat dalam meningkatkan kualitas produksi kopi dari tingkat hulu.
“Kalau barista, harapannya dengan pelatihan Bimtek Barista Kopi itu ada ahli-ahli penyaji kopi yang tidak cuma menyajikan, tapi punya wawasan untuk pengembangan usaha, mungkin buka kedai yang nantinya bisa menyerap tenaga kerja,” jelas politisi PKS ini. (*)








