Sebuah stick gateball yang menyimpan kenangan pernikahan menjadi saksi perjuangan Danang Dwi Kristanto meraih medali emas Porprov XVII Jawa Tengah 2026. Di balik keberhasilannya berdiri di podium tertinggi nomor tunggal putra di Stadion Kridanggo, Kota Salatiga, Selasa (27/10/2026), tersimpan kisah haru tentang doa keluarga, kehilangan ayah, dan janji sederhana kepada istri yang baru melahirkan.
Bagi atlet gateball Kabupaten Purworejo itu, medali emas bukan sekadar pencapaian di arena pertandingan. Ada dorongan kuat yang membuatnya ingin memberikan hasil terbaik, terlebih setelah harus menerima kenyataan pahit kehilangan sang ayah pada 13 Oktober 2026, hanya beberapa hari sebelum Porprov dimulai.
Di tengah suasana duka, Danang tetap berusaha menguatkan diri. Dukungan dari rekan-rekan atlet, kontingen, serta para pelatih menjadi sumber semangatnya untuk terus berjuang. Ia menyebut sosok Pak Gunarto dan Mas Fauzi sebagai orang-orang yang turut memberikan motivasi selama persiapan hingga pertandingan.
Namun, ada doa yang selalu mengiringi langkahnya dari rumah. Sang istri, yang juga merupakan atlet gateball, terus memberikan dukungan meski baru saja melahirkan.
Doa dan dukungan itulah yang membuat Danang memiliki alasan lebih besar untuk berjuang. Ia ingin pulang membawa kabar bahagia bagi keluarga, sekaligus menepati nazar yang telah diucapkannya.
Jika berhasil meraih kemenangan, Danang berjanji akan pulang membawakan boneka untuk istrinya. Hadiah sederhana itu menjadi wujud perhatian bagi sang istri yang telah mendukung perjuangannya, bahkan ketika dirinya harus meninggalkan rumah demi membela Kabupaten Purworejo.
Di arena pertandingan, Danang juga membawa sesuatu yang memiliki makna istimewa. Stick yang digunakannya bukan sekadar perlengkapan olahraga, melainkan stick yang menjadi mahar pernikahannya.
Ia menyebutnya sebagai stick keberuntungan. Benda yang menyimpan kenangan awal perjalanan rumah tangganya itu kini menjadi bagian dari kisah keberhasilan meraih emas Porprov.
Di tengah kebahagiaan atas pencapaian tersebut, Danang mengaku masih menyimpan kesedihan karena belum bisa memberikan hasil terbaik untuk tim beregu putra Purworejo.
Ia mengaku kecewa karena belum mampu mengantarkan tim beregu putra melangkah hingga babak semifinal. Meski berhasil meraih emas di nomor tunggal, hasil beregu tetap menjadi bagian yang membekas dalam pikirannya.
Bagi Danang, perjuangan di Porprov bukan hanya tentang prestasi pribadi, tetapi juga tentang tanggung jawab membawa nama daerah dan memberikan hasil terbaik bersama rekan-rekannya.
Di sisi lain, ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada KONI Purworejo atas dukungan perlengkapan yang diberikan kepada para atlet. Menurutnya, seragam yang disediakan terasa nyaman dikenakan, begitu pula sepatu yang digunakan saat bertanding karena tidak licin.
“Terima kasih, Pak Dul,” ucapnya, menyampaikan apresiasi kepada Ketua KONI Purworejo, M. Abdullah.
Kini, medali emas itu menjadi buah dari perjuangan yang tidak mudah. Di balik kemenangan Danang, ada duka kehilangan ayah, doa istri yang baru melahirkan, dukungan orang-orang terdekat, serta sebuah stick mahar pernikahan yang menemaninya berjuang.
Danang pulang bukan hanya membawa medali untuk Purworejo, tetapi juga membawa cerita tentang keteguhan hati. Tentang seorang atlet yang tetap melangkah di tengah kehilangan, demi menunaikan tanggung jawab kepada daerah dan membahagiakan keluarga yang menunggunya di rumah.(*)








