Lulusan Muda Purworejo: Siapkah Menghadapi Kebutuhan Dunia Kerja?

Bagi banyak anak muda, kelulusan sekolah sering dianggap sebagai langkah awal menuju dunia kerja. Ijazah kemudian menjadi salah satu modal untuk mencari pekerjaan. Namun, apakah ijazah saja sudah cukup untuk membuat lulusan muda siap menghadapi kebutuhan dunia kerja yang terus berubah?

Pertanyaan tersebut penting dibicarakan di Kabupaten Purworejo. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Purworejo pada Agustus 2025 berada pada angka 3,72 persen. Angka tersebut turun 0,17 poin persentase dibandingkan Agustus 2024. Penurunan ini menunjukkan adanya perkembangan positif dalam kondisi ketenagakerjaan Purworejo.

Namun, melihat persoalan tenaga kerja hanya dari angka pengangguran belum cukup. Ada persoalan lain yang juga perlu diperhatikan, yaitu kesiapan tenaga kerja dan kesesuaian keterampilan dengan pekerjaan yang tersedia.

Dalam dokumen perencanaan daerah Purworejo, pemerintah daerah sebelumnya telah mengidentifikasi bahwa sebagian lulusan SMA atau sederajat masih membutuhkan keterampilan dan kompetensi tambahan untuk memasuki dunia kerja. Artinya, tantangan bagi lulusan muda bukan hanya mendapatkan pekerjaan, tetapi juga memastikan kemampuan yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.

Dalam Teori Human Capital (Modal Manusia), pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan dipandang sebagai modal yang dapat meningkatkan produktivitas serta peluang seseorang untuk bekerja. Sementara itu, konsep Skill Mismatch menjelaskan kemungkinan ketidaksesuaian antara keterampilan yang dimiliki pencari kerja dan kemampuan yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Karena itu, kesiapan lulusan tidak cukup dinilai dari ijazah saja, tetapi juga dari relevansi keterampilan yang mereka miliki.

Kondisi tersebut juga dapat dilihat dari berbagai program pelatihan yang diselenggarakan di Purworejo. UPT Balai Latihan Kerja (BLK) Purworejo terus membuka pelatihan untuk meningkatkan kompetensi masyarakat. Pada 2026, terdapat pelatihan dalam bidang administrasi perkantoran, penggunaan aplikasi Office secara online, pembuatan roti dan kue, menjahit, pengelasan, hingga pemasangan instalasi otomasi listrik industri.

Pada September 2026, sekitar 70 calon peserta mengikuti seleksi untuk dua program pelatihan, yaitu Pengelola Administrasi Perkantoran dan Mengoperasikan Aplikasi Office Dasar secara Online. Masing-masing program menyediakan 16 tempat. Hal ini menunjukkan adanya minat masyarakat untuk menambah keterampilan sebagai bekal memasuki dunia kerja.

Baca Juga :  Karena Daster, Kakek Tega Setubuhi Wanita Penderita Kanker

Berbagai pelatihan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan keterampilan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan tenaga kerja. Namun, upaya meningkatkan kesiapan kerja tidak seharusnya hanya dilakukan setelah seseorang lulus dan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Persiapan idealnya dimulai sejak masih berada di bangku sekolah.

Sekolah dapat membantu siswa mengenali berbagai pilihan pekerjaan dan keterampilan yang dibutuhkan. Sementara itu, lembaga pelatihan dapat memberikan keterampilan praktis dan sertifikasi yang relevan. Dunia usaha juga perlu dilibatkan agar keterampilan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja.

Bagi lulusan muda sendiri, menunggu pekerjaan datang bukan satu-satunya pilihan. Mereka dapat mulai mengembangkan keterampilan tambahan melalui pelatihan, sertifikasi, magang, maupun pembelajaran mandiri. Kemampuan menggunakan teknologi, mengoperasikan perangkat lunak, berkomunikasi, dan bekerja sama juga semakin penting dalam berbagai jenis pekerjaan.

Dengan demikian, persoalan ketenagakerjaan di Purworejo tidak hanya dapat dilihat dari apakah jumlah pengangguran meningkat atau menurun. Hal yang tidak kalah penting adalah apakah tenaga kerja yang tersedia memiliki keterampilan yang sesuai dengan pekerjaan yang dibutuhkan.

Penurunan tingkat pengangguran merupakan perkembangan yang perlu diperhatikan. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan agar lulusan muda Purworejo tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga memiliki kompetensi yang dapat digunakan dan terus dikembangkan di dunia kerja.

Pada akhirnya, kesiapan kerja bukanlah sesuatu yang muncul secara otomatis setelah seseorang menerima ijazah. Kesiapan tersebut dibangun melalui pendidikan, pengalaman, keterampilan, dan kesempatan untuk terus belajar. Karena itu, membangun tenaga kerja muda yang siap menghadapi perubahan dunia kerja membutuhkan kerja sama antara sekolah, lembaga pelatihan, pemerintah, dunia usaha, dan para pencari kerja itu sendiri. (*)

Penulis : Archibald Regan Phalosa (Mahasiswa Program Studi Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)

Penulis: -Editor: -