Gelar Reses di Guyangan Purwodadi, Sigit Apriyanto Terima Aduan Soal Bronjong Bogowonto

PURWODADI, epurworejo.com – Persoalan pengamanan tebing Sungai Bogowonto, pembangunan Waduk Bener, hingga penerangan jalan menjadi sejumlah aspirasi yang disampaikan masyarakat saat anggota Fraksi Partai Demokrat DPRD Purworejo, Sigit Apriyanto ST, menggelar reses masa persidangan ketiga tahun 2026 di Balai Desa Guyangan, Kecamatan Purwodadi, Selasa (14/9/2026).

Kegiatan reses tersebut menyasar warga di wilayah dapil III Purworejo yang meliputi Kecamatan Bagelen, Purwodadi dan Ngombol dan diikuti perwakilan masyarakat dari berbagai unsur. Warga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan berbagai persoalan yang masih dihadapi di wilayahnya.

Salah satu aspirasi yang mendapat perhatian adalah pembangunan bronjong di sepanjang Sungai Bogowonto, khususnya wilayah Desa Guyangan. Warga menyebut usulan tersebut telah berulang kali disampaikan dalam Musrenbang desa maupun kecamatan selama lebih dari 15 tahun, namun hingga kini belum mendapatkan kejelasan mengenai realisasinya.

Widiyatmoko mengungkapkan kondisi tebing sungai saat ini cukup mengkhawatirkan. Meski sudah terdapat parapet, bagian tanah di bawahnya terus tergerus sehingga dikhawatirkan dapat mengganggu kekuatan bangunan tersebut. Terlebih, wilayah Guyangan juga menjadi salah satu daerah yang kerap terdampak banjir.

“Di Desa Guyangan sudah ada parapet, tetapi di bawah parapet itu sekarang bentuknya seperti tebing. Tanah yang menopang parapet sudah hilang. Kalau tidak ada bronjong, tanah warga di pinggir Sungai Bogowonto juga akan terus berkurang,” kata Widiyatmoko.

Warga yang lain, Pargito menyampaikan persoalan terkait kebutuhan air untuk pertanian serta pembangunan Waduk Bener. Dirinya meminta, Sigit selaku anggota DPRD bisa turut membantu memperjuangkan agar pelaksanaan pembangunan Bendungan itu bisa berjalan lagi dan bisa mengalir hingga ke Guyangan.

Dari kaum perempuan, Vivi mengusulkan adanya tempat mengaji bagi anak-anak di desa tersebut. Selama ini dirinya mengampu 50 anak dimana mereka harus memanfaatkan ruang yang seadanya.

“Besar harapan kami, Pak Sigit bisa membantu mengusulkan adanya tempat mengaji itu,” kata Vivi.

Menanggapi aspirasi tentang bronjong, Sigit mengatakan persoalan tersebut memang perlu mendapatkan perhatian khusus. Menurutnya, keberadaan bronjong penting untuk mencegah erosi yang dapat mengancam parapet sekaligus lahan milik masyarakat di sekitar sungai.

Ia juga menjelaskan bahwa penanganan Sungai Bogowonto menjadi kewenangan Balai Besar sehingga pihaknya akan membawa persoalan tersebut ke instansi terkait.

“Kalau modelnya menggantung, bagian bawahnya tergerus, otomatis parapet bisa turun. Ini menjadi perhatian khusus karena ranahnya Balai Besar. Nanti permasalahan ini kita bawa dan komunikasikan ke Balai Besar di Jogja,” kata Sigit.

Baca Juga :  21 Santri Ikuti Kirab Khatmil Qur'an Ponpes Al-Faham, Tradisi yang Terjaga Sejak 1992

Sigit mencontohkan kondisi di Desa Piji, Kecamatan Bagelen, yang menurutnya mengalami perubahan lebar sungai akibat proses penggerusan. Kondisi tersebut berdampak terhadap berkurangnya lahan masyarakat di sekitar sungai.

Terkait kebutuhan air untuk pertanian serta pembangunan Waduk Bener. Sigit menyampaikan bahwa dirinya telah berkomunikasi langsung dengan Balai Besar di Yogyakarta dan kementerian terkait mengenai kelanjutan pembangunan waduk tersebut.

Menurutnya, pembangunan Waduk Bener saat ini masih menghadapi kendala anggaran. Padahal, keberadaan waduk tersebut diharapkan dapat mendukung ketersediaan air, khususnya untuk wilayah selatan Purworejo.

“Saya kemarin ke Jogja, ke Balai Besar, dan langsung bertemu dengan pihak di sana. Ternyata Waduk Bener belum aktif pembangunannya karena masih tersendat anggaran. Dua bulan lalu saya juga ke kementerian dan menyampaikan bahwa ini proyek strategis nasional, jangan sampai mandek,” jelasnya.

Sigit menambahkan, apabila Waduk Bener nantinya dapat diselesaikan, keberadaan jaringan irigasi yang telah dibangun di wilayah Guyangan diharapkan dapat mendukung distribusi air ke lahan pertanian masyarakat.

Aspirasi lain yang disampaikan masyarakat adalah kebutuhan penerangan jalan umum (PJU), khususnya di sejumlah ruas jalan yang menghubungkan wilayah Purwodadi dengan desa-desa di sekitarnya.

Warga mengusulkan agar penerangan jalan diperbanyak karena kondisi jalan yang minim lampu dinilai meningkatkan risiko kecelakaan, terutama pada malam hari.

Sigit mengatakan persoalan PJU sebenarnya telah menjadi perhatian dan telah diusulkannya sejak dua tahun terakhir. Beberapa ruas yang pernah diajukan antara lain dari Keduren hingga Jogoboyo, serta kawasan perempatan Purwodadi menuju Cokroyasan dan Krendetan.

“Jalannya bagus tapi tidak ada lampunya, risikonya kecelakaan. Apalagi jalannya kurang bagus dan tidak ada lampu, tentu risikonya semakin besar,” ujarnya.

Ia menambahkan, kebutuhan penerangan jalan di sejumlah wilayah seperti Ngleyangan hingga Jogoboyo maupun Gintungan masih belum maksimal. Pihaknya akan menyampaikan kembali aspirasi tersebut kepada dinas terkait agar dapat menjadi perhatian dalam penambahan PJU.

“Untuk tahun ini sepertinya memang ada penambahan lampu penerangan, tetapi saya belum tahu titiknya di mana. Dengan adanya informasi dari masyarakat ini, mudah-mudahan bisa menjadi skala prioritas,” katanya.(*)